<link rel="stylesheet" href="https://cdn.plyr.io/3.7.8/plyr.css" />
Kembali ke KatalogFC1.bfKursus 1: Fondasi Biblika, Bagian 1
Modul 1 · Modul Satu - Mengapa Mempelajari Perjanjian Lama? ·ManuscriptDiterjemahkan dari Inggris

KOT-01 Mengapa Mempelajari Perjanjian Lama?

Baca teks lengkap

Membuka naskah…

Untuk video, pedoman studi dan bahan-bahan lainnya, silakan kunjungi Third Millennium Ministries di thirdmill.org.

Kerajaan, Perjanjian-Perjanjian & Kanon Perjanjian Lama

Pelajaran

Satu

Mengapa mempelajari Perjanjian Lama?

© 2012 by Third Millennium Ministries

Semua Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak terbitan ini dalam bentuk apa pun atau dengan cara apa pun untuk diperjualbelikan, kecuali dalam bentuk kutipan-kutipan singkat untuk digunakan sebagai tinjauan, komentar, atau pendidikan akademis, tanpa izin tertulis dari penerbit: Third Millennium Ministries, Inc., P.O. Box 300769, Fern Park, Florida 32730-0769.

Kecuali disebutkan, semua kutipan Alkitab diambil dari ALKITAB BAHASA INDONESIA TERJEMAHAN BARU, © 1974 LEMBAGA ALKITAB INDONESIA.

Tentang Third Millennium Ministries

Didirikan pada tahun 1997, Third Millennium Ministries adalah sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menyediakan Pendidikan Alkitab. Bagi Dunia. Secara cuma-cuma. Dalam menyikapi kebutuhan global yang semakin berkembang akan pelatihan kepemimpinan Kristen yang benar dan berdasarkan Alkitab, kami membuat kurikulum seminari multimedia yang mudah digunakan dan didukung oleh donasi dalam lima bahasa (Inggris, Spanyol, Rusia, Mandarin, Arab) dan membagikannya secara cuma-cuma kepada mereka yang paling memerlukannya, terutama bagi pemimpin-pemimpin Kristen yang tidak memiliki akses untuk atau mengalami kendala finansial untuk dapat mengikuti pendidikan tradisional. Semua pelajaran ditulis, dirancang dan diproduksi oleh organisasi kami sendiri, serta memiliki kemiripan dalam gaya dan kualitas dengan pelajaran-pelajaran yang ada di History Channel©. Metode pelatihan yang tidak ada bandingannya dan hemat-biaya untuk para pemimpin Kristen ini telah terbukti sangat efektif di seluruh dunia. Kami telah memenangkan Telly Awards untuk produksi video yang sangat baik dalam Pendidikan dan Penggunaan Animasi, dan kurikulum kami ini baru-baru ini telah digunakan di lebih dari 150 negara. Materi Third Millennium ada dalam bentuk DVD, cetakan, streaming internet, pemancar televisi satelit, siaran radio serta televisi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelayanan kami dan untuk mengetahui bagaimana Anda bisa mengambil bagian di dalamnya, silakan kunjungi http://thirdmill.org

Daftar Isi

  1. Introduksi 1
  2. Jarak Dengan Kita 2
    1. Penyebab Adanya Jarak 2
      1. Inspirasi Organik 3
      2. Akomodasi Ilahi 4
    2. Jenis-jenis Jarak 5
      1. Jarak Teologis 6
      2. Jarak Kebudayaan 6
      3. Jarak Pribadi 8
  3. Relevansi Bagi Kita 9
    1. Ajaran Yesus 9
      1. Komentar Negatif 9
      2. Afirmasi Positif 14
    2. Ajaran Paulus 16
      1. Komentar Negatif 16
      2. Afirmasi Positif 18
  4. Penerapan Bagi Kita 19
    1. Tantangan 19
    2. Kaitan 21
      1. Allah Yang Sama 22
      2. Dunia Yang Sama 25
      3. Manusia Yang Sama 26
  5. Perkembangan-Perkembangan 28
    1. Perkembangan Periode Sejarah 28
    2. Perkembangan Kebudayaan 31
    3. Perkembangan Pribadi 31
  6. Kesimpulan 32

INTRODUKSI

Seandainya kita bertanya kepada mereka yang tidak memiliki latar belakang tradisi Yahudi atau Kristen, “Mengapa seseorang perlu mempelajari Perjanjian Lama?”, jawaban mereka mungkin condong kepada dua hal mendasar. Respons yang lebih positif mungkin seperti ini, “Perjanjian Lama adalah sebuah kitab kuno, tetapi kita harus mempelajarinya karena di dalamnya masih ada hal-hal yang bermanfaat untuk kita di zaman sekarang.” Sedangkan respons yang lebih negatif mungkin seperti ini, “Sebenarnya Perjanjian Lama sudah sangat kuno dan tidak lagi relevan, sehingga tidak pantas dibaca lagi.”

Ketika orang Kristen yang setia mendengar ada orang lain yang mengutarakan pendapat semacam ini terhadap Perjanjian Lama, kita secara spontan menarik diri dengan kecewa. Sebagai pengikut Kristus, kita percaya bahwa Perjanjian Lama adalah Firman Allah, Kitab Suci yang kudus yang diinspirasikan oleh Allah. Maka kita dengan mudah bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang dapat mengatakan hal yang seperti itu tentang Alkitab? Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah jika kita bertanya kepada orang Kristen, “Mengapa seseorang perlu mempelajari Perjanjian lama?” ternyata banyak di antara kita yang menjawab seperti orang yang tidak percaya kepada Kristus. Jawaban terbaik kita adalah, “Kita perlu mempelajari Perjanjian Lama pada masa kini karena masih ada beberapa hal yang baik untuk kita pada masa kini.” Dan yang terburuk adalah bahkan sebagian orang Kristen akan berkata, “Sejujurnya, Perjanjian Lama sudah begitu kuno dan tidak relevan, sehingga sudah tidak layak untuk dibaca.”

Pelajaran ini adalah yang pertama dalam rangkaian pelajaran yang akan menelusuri keseluruhan Perjanjian Lama. Kami memberi judul serial ini, Kerajaan, Perjanjian-Perjanjian, dan Kanon Perjanjian Lama. Sesuai judulnya, dalam pelajaran ini, kita akan berfokus pada tiga dimensi penting dalam Perjanjian Lama. Kita akan melihat bahwa Perjanjian Lama adalah sebuah kitab yang dipersatukan oleh tema sentral tentang kerajaan Allah, di mana administrasi dari kerajaan ini dijalankan di dalam sejarah melalui perjanjian-perjanjian yang Allah adakan dengan umat-Nya, dan bahwa melalui kanon Perjanjian Lama, perjanjian-perjanjian ini diterapkan untuk kebutuhan spesifik dari umat Allah pada masa tertentu dan di tempat tertentu.

Pelajaran ini berjudul, “Mengapa Mempelajari Perjanjian Lama?” Sebelum kita membahas tentang kerajaan, perjanjian-perjanjian, dan kanon Perjanjian Lama secara langsung, kita akan memfokuskan pelajaran pertama ini pada sebuah isu pendahuluan — signifikansi dan relevansi Perjanjian Lama. Faktanya adalah banyak orang Kristen yang bermaksud baik yang sama sekali tidak percaya bahwa Perjanjian Lama layak dipelajari secara cermat.

Dalam pelajaran ini, kita akan melihat tiga alasan mengapa mempelajari Perjanjian Lama itu penting. Pertama, kita akan melihat bahwa adanya jarak di antara Perjanjian Lama dengan kita itulah yang membuat Perjanjian Lama sulit untuk dipelajari. Kedua, kita akan menyelidiki relevansi yang seharusnya kita harapkan dari Perjanjian Lama bagi zaman kita. Ketiga, kita akan menelusuri beberapa cara yang dapat kita pelajari untuk menerapkan Perjanjian Lama dalam kehidupan kita di dunia modern. Marilah kita mulai dengan melihat fakta bahwa Perjanjian Lama sering terasa begitu jauh dari kita.

JARAK DENGAN KITA

Selama bertahun-tahun, saya menjumpai banyak mahasiswa mengalami proses yang mirip, dan bahkan bisa ditebak, ketika mempelajari Perjanjian Lama. Sewaktu kita masih kecil, atau ketika kita baru percaya, kita diberi tahu bahwa Perjanjian Lama adalah Firman Allah yang diinspirasikan dan tidak mengandung kesalahan. Karena alasan ini, banyak di antara kita yang menyimpulkan bahwa Perjanjian Lama hanya memuat ajaran-ajaran yang mudah diterapkan dalam kehidupan Kristen. Selama kita hanya membahas topik-topik besar, misalnya kekudusan Allah, pengharapan Israel, atau perintah-perintah seperti “Jangan mencuri” atau “Jangan membunuh”, kita merasakan sepertinya kita berada di wilayah yang tidak asing. Namun, sesuatu terjadi ketika kita mulai mempelajari Perjanjian Lama secara lebih serius. Saat kita mulai menggali lebih dalam, kita menemukan banyak materi Perjanjian Lama yang sama sekali asing bagi kita. Bahkan, semakin banyak kita membacanya, kita semakin merasa asing terhadapnya; bagi banyak di antara kita, rasanya kita seolah-olah berada di negeri yang jauh dan asing.

Saat kita menyelidiki mengapa Perjanjian Lama sering tampak sangat asing, kita perlu berfokus pada dua topik: pertama, berbagai penyebab dari jarak ini, hal-hal yang membuat Perjanjian Lama seolah begitu asing; dan kedua, berbagai macam jarak yang kita hadapi, hal-hal yang asing yang kita temui di dalam Perjanjian Lama.

Pertama-tama, mari kita perhatikan beberapa alasan utama yang menyebabkan kita sering merasakan adanya jarak yang lebar di antara diri kita dan Perjanjian Lama.

Penyebab Adanya Jarak

Orang yang tidak percaya memiliki berbagai macam alasan untuk mengklaim bahwa Perjanjian Lama itu asing bagi manusia modern. Beberapa pendapat mereka memang masuk akal, didukung oleh fakta, tetapi sebagian besar pandangan mereka semata-mata timbul karena ketidakpercayaan mereka. Orang yang tidak percaya tidak memiliki iman yang menyelamatkan, dan ini membuat mereka membesar-besarkan kejanggalan Perjanjian Lama. Ketika Anda tidak percaya kepada Allah, kitab yang berbicara banyak tentang Allah tentu akan terasa amat janggal. Dan ketika Anda tidak percaya kepada Kristus, kitab yang mempersiapkan umat Allah bagi Kristus juga akan tampak asing. Oleh karena itu, seharusnya kita tidak terkejut apabila orang-orang yang tidak beriman berkata bahwa Perjanjian Lama tampak sangat jauh dari kehidupan modern.

Namun, bagaimana dengan orang percaya? Kita percaya kepada Allah Kitab Suci. Kita mengikut Kristus. Mengapa kita merasakan adanya jarak di antara kita dengan Perjanjian Lama? Setidaknya ada dua fitur Perjanjian Lama yang sering membuat kita memandang Perjanjian Lama seperti suatu negeri yang asing. Di satu sisi, Allah memberikan Perjanjian Lama kepada manusia melalui proses yang dikenal sebagai inspirasi organik. Dan di sisi yang lain, Allah merancang Perjanjian Lama untuk memenuhi tujuannya melalui proses yang disebut sebagai akomodasi ilahi. Kedua fitur ini, inspirasi organik dan akomodasi ilahi, menjadi penyebab utama dari jarak yang kita rasakan. Mari kita bahas terlebih dahulu proses inspirasi organik.

Inspirasi Organik

Kita sering menyebut pandangan Kristen injili yang historis tentang inspirasi ilahi Kitab Suci sebagai “inspirasi organik”. Kita menggunakan peristilahan ini untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus memakai kepribadian, pengalaman, dan tujuan para penulis asli dalam penulisan Alkitab. Maksudnya, di bawah pimpinan khusus dari Roh Kudus, para penulis menentukan sendiri apa yang akan mereka tuliskan. Alkitab bukanlah hasil inspirasi mekanis di mana Allah memakai para penulisnya sebagai saluran informasi yang pasif; Alkitab juga tidak diinspirasikan secara romantis seakan-akan Allah sekadar memotivasi para penulis Alkitab untuk menuliskan hal-hal religius yang agung. Sebaliknya, Allah secara sangat cermat dan terperinci mengendalikan isi Kitab Suci sehingga Alkitab sama sekali tidak mengandung kesalahan, dan karenanya dapat dengan benar disebut sebagai Firman Allah. Namun, Ia melakukannya melalui proses yang mengandalkan dan merefleksikan kepribadian dan tujuan pribadi dari setiap penulisnya.

Perhatikan bagaimana Petrus mengomentari surat Paulus di dalam 2 Petrus 3:15-16. Di situ kita membaca kata-kata ini:

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain (2 Petrus 3:15-16).

Dalam ayat-ayat ini, rasul Petrus mengukuhkan bahwa surat-surat Paulus ditulis dengan hikmat yang diberikan oleh Allah kepada Paulus. Dengan kata lain, Roh Allah menginspirasikan surat-surat Paulus sehingga tulisan-tulisan itu bukan sekadar tulisan manusia, melainkan tulisan dari Allah. Namun, Petrus juga mengakui bahwa kepribadian Paulus muncul melalui surat-suratnya. Perhatikan apa yang ia katakan: “Paulus menulis menurut hikmat yang dikaruniakan [Allah] kepadanya.” Kitab-kitab ini tetaplah surat-surat Paulus. Jadi, kita bisa melihat bahwa menurut pandangan Petrus, surat-surat rasul Paulus dihasilkan dari proses yang melibatkan baik Allah maupun penulis manusianya.

Cara pandang ini juga berlaku untuk Perjanjian Lama. Itu sebabnya, hukum Perjanjian Lama tidak hanya disebut sebagai hukum Allah, tetapi juga hukum Musa. Hukum itu berasal dari Allah, tetapi disampaikan melalui Musa. Ini juga yang membuat banyak mazmur disebut sebagai Mazmur Daud. Walaupun Allah adalah Penulis yang paling utama dari Perjanjian Lama, Ia melibatkan orang-orang kudus untuk menulis kitab-kitab tersebut, dan mereka menulisnya dengan cara-cara yang merefleksikan kepribadian, maksud, dan situasi mereka.

Ketika kita memikirkan hal ini, tidaklah sulit untuk melihat bahwa kepengarangan manusia terhadap Alkitab itulah yang menciptakan jarak di antara kita dengan Perjanjian Lama. Semua penulis Perjanjian Lama adalah orang-orang dari zaman kuno. Mereka semua hidup di dalam dunia Timur Dekat Kuno, dan mereka berpikir serta menulis seperti orang-orang pada zaman itu. Sama halnya, karena mereka menulis sebelum kedatangan Kristus, para penulis Perjanjian Lama tidak mempunyai teologi Kristen yang sudah berkembang secara sempurna seperti yang kita miliki saat ini. Sebagai hasilnya, ketika Anda dan saya mempelajari Perjanjian Lama, kita akan segera melihat bahwa dunia Perjanjian Lama sangat berbeda dengan dunia modern. Itu sebabnya, Perjanjian Lama sering tampak asing dan tidak dikenal.

Selain kesulitan-kesulitan yang telah dimunculkan oleh inspirasi organik terhadap para penulis Alkitab, kita juga harus menyadari bahwa akomodasi ilahi juga membuat jarak antara kita dengan Perjanjian Lama.

Akomodasi Ilahi

Kata “akomodasi” adalah istilah yang dipakai oleh para teolog untuk menjelaskan fakta bahwa setiap kali Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia, Ia hadir dan berfirman kepada kita dengan istilah-istilah manusia yang fana. Karena Allah tidak dapat dipahami secara sempurna, ketika Ia menyatakan diri-Nya, Ia merendahkan diri-Nya dan berbicara dalam “bahasa bayi” kepada kita. Jika tidak demikian, kita tidak akan mampu memahami apa pun yang Allah firmankan. Anda mungkin ingat bahwa dalam Yesaya 55:8-9, kita membaca kata-kata ini:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9).

Allah begitu transenden — Ia secara tidak terbatas melampaui keterbatasan kita — sehingga setiap wahyu yang pernah diberikan-Nya telah disesuaikan dengan kapasitas manusia supaya setidaknya sebagian dari kita mampu mengerti dan mengikuti apa yang telah Ia wahyukan.

Sangat penting untuk disadari bahwa di dalam Perjanjian Lama, Allah tidak mengakomodasikan diri-Nya begitu saja kepada manusia secara umum. Ia berbicara dengan bahasa manusia dengan cara-cara yang dapat dipahami oleh manusia yang fana. Tetapi Ia juga merancang Perjanjian Lama untuk situasi-situasi historis yang spesifik yang dihadapi oleh orang Yahudi yang hidup di Timur Dekat Kuno. Ia merancang Kitab Suci untuk dipahami, pertama-tama oleh orang-orang Israel kuno. Karena pendengar utama dari Perjanjian Lama adalah orang Yahudi kuno, Allah membuat Perjanjian Lama dituliskan dalam bahasa Ibrani kuno dan bahasa Aram kuno. Allah memberikan Sepuluh Perintah Allah di atas loh batu, karena itulah standar internasional bagi penulisan dokumen penting. Dan gaya sastra narasi, puisi, literatur hikmat, dan hukum yang kita temukan dalam Perjanjian Lama mengikuti gaya sastra Timur Dekat Kuno, sehingga umat Allah pada zaman itu dapat memahami apa yang Ia katakan kepada mereka. Karena alasan itulah, ketika Anda dan saya mempelajari Perjanjian Lama, kita terus-menerus menghadapi kenyataan bahwa Perjanjian Lama ditulis untuk orang-orang yang sangat berbeda dengan kita. Perjanjian Lama secara khusus ditulis sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan umat Israel kuno.

Jadi, bisa kita katakan bahwa Kitab-Kitab Perjanjian Lama sering terasa seperti wilayah yang asing bagi Anda dan saya, karena kitab-kitab itu diinspirasikan secara organik dan juga disesuaikan dengan keadaan penerima aslinya yaitu orang Israel. Para penulis dan pendengar Perjanjian Lama hidup di zaman kuno yang sangat jauh berbeda dengan zaman kita. Karena alasan ini, kita sering merasakan adanya jarak yang besar di antara kita dan Perjanjian Lama.

Setelah kita melihat dua alasan yang menyebabkan jarak bagi Perjanjian Lama, kita perlu beralih kepada topik kedua: berbagai macam jarak yang kita jumpai di antara kita dan Perjanjian Lama. Hal-hal apakah yang kita temukan di dalam Perjanjian Lama yang seolah asing bagi kita?

Jenis-jenis Jarak

Sudah jelas bahwa kita tidak dapat menghitung segala sesuatu yang menyebabkan Perjanjian Lama asing bagi kita, tetapi sesuai dengan tujuan kita, maka akan bermanfaat jika kita melihatnya dari perspektif tiga jenis jarak yang mendasar di antara kita dan Perjanjian Lama: Pertama, jarak teologis — perbedaan antara apa yang kita percayai sebagai orang Kristen Perjanjian Baru dengan perspektif-perspektif teologis yang dinyatakan di dalam Perjanjian Lama; kedua, jarak kebudayaan — perbedaan antara kebudayaan modern kita dengan perspektif kebudayaan Timur Dekat Kuno yang kita temukan di dalam Perjanjian Lama; dan ketiga, jarak pribadi — perbedaan antara Anda dan saya sebagai pribadi dengan orang-orang yang diasosiasikan dengan Perjanjian Lama.

Kita semua seharusnya menyadari bahwa dimensi teologis, kebudayaan, dan pribadi dari kehidupan tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari satu sama lain; ketiganya begitu erat terjalin dan saling mempengaruhi dengan cara-cara yang tidak terhitung jumlahnya. Hal ini berlaku pada zaman Perjanjian Lama sama seperti halnya pada zaman kita. Jadi, pendekatan kepada masalah ini dari perspektif tiga jenis jarak tersebut memang akan terasa sedikit dipaksakan. Namun demikian, hal itu akan tetap membantu kita untuk membahas masing-masing hal tersebut secara independen.

Jadi, mari pertama-tama kita melihat jarak teologis yang kita temukan ketika kita mempelajari Perjanjian Lama.

Jarak Teologis

Salah satu hambatan yang paling mencolok dalam mempelajari Perjanjian Lama adalah jarak yang kita rasakan di antara teologi Perjanjian Lama dengan teologi Kristen Perjanjian Baru yang kita miliki. Ketika kita membicarakan jarak teologis, yang kita maksudkan terutama adalah perbedaan historis antara wahyu yang dimiliki oleh para penulis Perjanjian Lama dengan wahyu yang lebih lengkap yang dimiliki oleh orang Kristen. Kami memikirkan fakta bahwa Perjanjian Lama mengajarkan banyak hal tentang Allah dan hubungan kita dengan Dia, yang setidaknya secara sepintas terlihat sangat berbeda dengan apa yang kita pelajari dalam Perjanjian Baru. Setiap orang Kristen yang membaca Perjanjian Lama menyadari bahwa dalam satu atau lain hal, Perjanjian Lama menyajikan pandangan-pandangan teologis yang tampaknya tidak senada dengan Perjanjian Baru.

Pikirkan beberapa contoh dari perbedaan teologis ini. Misalnya, Allah memanggil Abraham untuk mengorbankan putranya. Tetapi, apa yang akan kita pikirkan apabila hari ini ada orang yang memberi tahu kita bahwa Allah menyuruhnya untuk mengorbankan putranya? Kita bahkan tidak akan menanggapi klaim teologis itu secara serius. Dan pada zaman Musa, Allah menuntut agar umat-Nya yang setia mencari keselamatan mereka dengan berjalan keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Namun, kita tentunya berpikir adalah suatu kejanggalan apabila kita bertemu dengan sekelompok orang Kristen yang secara harfiah berjalan melintasi padang belantara untuk mendapatkan keselamatan. Di dalam Perjanjian Lama, kita juga membaca tentang orang-orang yang mengabdikan diri untuk melayani Allah dengan mengambil sumpah sebagai nazir untuk tidak memotong rambut mereka. Namun, tentunya terasa janggal bagi kita bahwa Allah senang dengan nazar-nazar seperti itu. Atau coba renungkan fakta bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah menetapkan Bait Suci sebagai satu-satunya tempat beribadah bagi umat-Nya, dengan ancaman hukuman mati jika dilanggar. Namun, pada masa kini, kita sungguh percaya bahwa manusia dapat menyembah Allah dengan benar di mana saja dan kapan saja. Dulu Allah menuntut umat-Nya untuk mengorbankan hewan sebagai korban penebus dosa. Pada zaman sekarang, kita menganggap ritual-ritual semacam itu sebagai tindakan menyiksa binatang dan menghina pengorbanan Yesus Kristus. Di dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan penghancuran kota-kota Kanaan secara menyeluruh, termasuk para perempuan dan anak-anak. Namun, kita tidak dapat membayangkan bahwa hal semacam itu disetujui oleh Allah di dalam perang modern.

Tidakkah kita semua menjadi agak bingung karena Perjanjian Lama memanggil kita untuk percaya bahwa Allah melakukan hal-hal semacam itu, sedangkan keadaannya sangat berbeda dalam Perjanjian Baru? Daftar perbedaan teologis ini dapat terus dilanjutkan. Hal apa pun yang mungkin kita katakan, sudah pasti ada jarak teologis yang besar di antara kita dengan Perjanjian Lama.

Jarak Kebudayaan

Selain jarak teologis yang kita lihat di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Perjanjian Lama juga tampak seperti sebuah negeri yang jauh karena adanya perbedaan kultural di antara dunia Timur Dekat Kuno dengan dunia modern kita. Ketika kita berbicara tentang perbedaan kebudayaan di antara kita dan Perjanjian Lama, maksudnya adalah dimensi-dimensi kehidupan bagi para tokoh, penulis asli, dan para penerima Perjanjian Lama, yang menjadi karakteristik dari kebudayaan di mana mereka hidup. Kita merasakan adanya jarak kebudayaan di antara diri kita dengan Perjanjian Lama setiap kali kita membaca atau membayangkan kehidupan di dunia kuno, baik itu di Israel, Kanaan, Mesir, Asyur, Babilon, atau banyak kebudayaan lain di masa lampau. Orang-orang yang kita jumpai dalam Perjanjian Lama mempunyai asumsi, nilai, dan praktik kebudayaan yang tidak terhitung banyaknya, sama seperti kita saat ini. Namun, segala pengharapan, kebiasaan, dan praktik itu berbeda dengan yang kita miliki karena zaman dan tempat di mana mereka hidup.

Jarak kebudayaan muncul karena masyarakat manusia terus berubah. Struktur sosial bergeser; adat-istiadat yang sebelumnya terasa janggal dalam banyak hal. Bisakah Anda membayangkan mengunjungi kebudayaan Anda sendiri dua abad yang lampau? Bagi kebanyakan dari kita, segala perbedaan yang ada akan membuat kita merasa sangat tidak nyaman. Kita membutuhkan banyak waktu untuk menyesuaikan diri. Kalau hal ini berlaku untuk jarak waktu yang sedemikian singkat di dalam kehidupan bangsa kita sendiri, betapa wajarnya jika kita menjumpai perbedaan-perbedaan kebudayaan di antara diri kita dengan dunia Perjanjian Lama? Ada begitu banyak perbedaan di antara dunia Timur Dekat Kuno dan dunia modern kita, sehingga banyak hal yang kita baca dalam Perjanjian Lama menjadi luar biasa asing bagi kita.

Mari kita lihat beberapa contoh tentang dimensi-dimensi kebudayaan Perjanjian Lama yang membuat kita merasa jauh. Pada level yang umum, dunia Perjanjian Lama terutama adalah dunia agraris. Kita membaca tentang kehidupan sebagai petani dan nelayan di sepanjang Perjanjian Lama, tetapi banyak orang kota pada masa kini yang sulit memahami proses-proses dasar yang ada di dalam gaya hidup kuno ini. Kita membaca tentang pernikahan lewat perjodohan di dalam Perjanjian Lama, dan banyak orang pada masa kini yang bertanya-tanya bagaimana pasangan muda dapat menoleransi tradisi yang seperti itu. Kita membaca bahwa tokoh-tokoh Alkitab melakukan poligami, dan hal ini menantang idealisme monogami kita. Kita menemukan perbudakan di dalam Perjanjian Lama, dan kita dibuat bingung oleh kebiasaan ini. Kita juga menemukan di dalam halaman-halaman Perjanjian Lama bahwa kebudayaan mereka didominasi oleh struktur sosial yang dikenal sebagai imperialisme. Menjadi bagian dari sebuah kerajaan yang berkuasa dianggap sebagai tatanan sosial yang ideal dalam hampir setiap kebudayaan Timur Dekat Kuno, termasuk Israel. Mereka hampir tidak tahu apa-apa tentang ideal demokrasi modern. Ketika kita melihat hal-hal seperti ini serta fitur-fitur serupa dalam kehidupan Perjanjian Lama, kita sering bertanya-tanya bagaimana kita dapat menanganinya. Apa yang harus kita lakukan dengan Alkitab yang begitu berakar di dalam lingkungan kebudayaan yang begitu berbeda dengan kebudayaan kita sendiri? Ketika kita membaca Perjanjian Lama, perbedaan-perbedaan seperti ini serta banyak perbedaan kebudayaan lainnya juga membuat kita merasakan jurang yang sangat lebar di antara kita dan Perjanjian Lama.

Jarak Pribadi

Di samping jarak teologis dan kebudayaan yang ada di antara kita dan Perjanjian Lama, ada jenis jarak yang ketiga: jarak pribadi. Ketika kita berbicara tentang jarak pribadi atau perbedaan-perbedaan pribadi, kita sedang merujuk kepada fakta bahwa orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama berbeda dengan orang modern dalam banyak hal, dan jarak di antara kita dan mereka sering kali melibatkan pertimbangan yang sangat pribadi dan manusiawi.

Tentu saja, orang-orang dalam Perjanjian Lama tidak sepenuhnya berbeda dengan kita. Seperti yang nanti akan kita lihat di dalam pelajaran ini, kita dapat menghubungkan diri kita dengan mereka dengan beberapa cara yang penting. Namun, dalam banyak hal lain, mereka memiliki mentalitas yang luar biasa berbeda dengan kita. Hal ini seharusnya tidak mengejutkan. Lagipula, berbagai kecenderungan mereka muncul dari dunia teologis dan kebudayaan di mana mereka hidup.

Di satu sisi, pertimbangkan bahwa banyak orang dalam Perjanjian Lama memiliki pengalaman-pengalaman rohani yang luar biasa, tidak seperti pengalaman yang kita miliki saat ini. Mereka mendapat penglihatan dari surga dan mendengar suara Allah yang dapat didengar. Mereka bergulat secara fisik dengan makhluk-makhluk surgawi. Coba berhenti sejenak dan ajukan pertanyaan ini kepada diri Anda: Bagaimanakah Anda akan berubah jika Anda mempunyai pengalaman-pengalaman rohani semacam itu? Akan menjadi orang seperti apakah Anda, jika Anda memperoleh penglihatan dan pendengaran yang diinspirasikan oleh Allah, dan bergulat dengan makhluk-makhluk surgawi? Saya pikir kita sadar bahwa kita akan sepenuhnya diubahkan jika kita memiliki pengalaman-pengalaman seperti itu sekarang ini. Menyadari hal ini akan menolong kita untuk melihat bahwa kita sangat berbeda dengan orang-orang dalam Perjanjian Lama yang memiliki pengalaman-pengalaman yang seperti itu dengan Allah.

Di sisi lain, coba pikirkan seperti apakah keadaan kita dengan adanya pengaruh-pengaruh kebudayaan terhadap kita. Di dalam Perjanjian Lama, orang menjalankan peran-peran kebudayaan yang sangat janggal bagi kita. Pada zaman itu ada raja, ratu, petani, dan budak. Orang-orang Perjanjian Lama harus menanggung akibat yang mengerikan dari peperangan zaman dahulu, serta ancaman kelaparan dan wabah penyakit. Kita membaca tentang seorang anak muda yang dengan berani bertempur melawan seorang raksasa; seorang wanita muda yang memimpin pasukan untuk maju berperang. Kita mendengar jeritan keputusasaan dari budak-budak di Mesir. Sangat sedikit di antara kita yang kini menghadapi situasi semacam itu, dan akibatnya, sulit bagi kita untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang-orang itu ketika mereka mengalami semua pengalaman ini.

Jadi, saat kita memulai pelajaran ini, kita harus siap untuk mengakui bahwa Perjanjian Lama akan tampak sangat jauh dari kita dalam banyak hal. Bagian Alkitab ini tidak ditulis dalam dunia modern kita, dan karenanya kita akan berulang kali menjumpai banyak perbedaan teologis, kebudayaan, dan pribadi di antara kita dengan Perjanjian Lama.

Setelah kita melihat berbagai penyebab dan berbagai macam jarak di antara kita dan Perjanjian Lama, kita harus beralih kepada topik kedua: Apa relevansi Perjanjian Lama dalam kehidupan kita? Mengapa kita harus yakin bahwa kitab yang sedemikian jauh ini dapat memberikan pengajaran yang berharga untuk kehidupan kita sekarang? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan tersebut, tetapi yang pasti, respons yang paling penting adalah kita tetap harus yakin bahwa Perjanjian Lama penting bagi kehidupan kita karena Perjanjian Baru mengajarkan demikian kepada kita.

RELEVANSI BAGI KITA

Sayangnya, jika ada ajaran Perjanjian Baru yang banyak disalahmengerti di zaman kita, maka ajaran itu adalah: ada terlalu banyak orang Kristen yang membaca Perjanjian Baru seakan-akan Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Perjanjian Lama sudah ketinggalan zaman, dan bahwa Perjanjian Baru sudah meniadakan kebutuhan kita akan Perjanjian Lama. Namun pada kenyataannya, Perjanjian Baru justru mengatakan yang sebaliknya. Seperti yang akan kita lihat, Perjanjian Baru justru menyatakan bahwa Perjanjian Lama mutlak diperlukan bagi kehidupan Kristen. Kehidupan yang utuh di dalam Kristus tidak dapat dicapai jika kita tidak mendapatkan pedoman dari Perjanjian Lama.

Ada banyak cara yang digunakan oleh Perjanjian Baru untuk mengajar kita bahwa Perjanjian Lama masih relevan untuk hidup kita di masa sekarang, tetapi kita akan berfokus pada dua hal. Pertama, kita akan mengamati ajaran dari Tuhan Yesus. Dan kedua, kita akan menelusuri ajaran dari rasul Paulus. Marilah pertama-tama kita merenungkan apa yang Tuhan Yesus ajarkan tentang relevansi Perjanjian Lama.

Ajaran Yesus

Untuk memiliki pandangan yang seimbang mengenai apa yang Tuhan Yesus ajarkan tentang signifikansi Perjanjian Lama bagi kita saat ini, kita akan melihat sekilas dua aspek ajaran Yesus: Pertama, komentar-Nya yang terkesan negatif tentang Perjanjian Lama; dan kedua, afirmasi-Nya yang positif tentang relevansi Perjanjian Lama. Marilah kita melihat terlebih dahulu beberapa pengajaran Yesus yang secara sekilas memberikan pandangan yang negatif tentang Perjanjian Lama.

Komentar Negatif

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan Yesus telah mengakhiri relevansi dari Perjanjian Lama, merujuk kepada Khotbah di Bukit dalam Matius 5-7 sebagai bukti dari pandangan mereka. Dalam suatu bagian dari Khotbah di Bukit, Yesus menyentuh beberapa isu etika, dan pendekatan-Nya terhadap perkara ini memberi kesan kepada banyak orang bahwa Ia sebenarnya menentang ajaran-ajaran Perjanjian Lama. Perhatikan perikop yang tidak asing ini. Dalam Matius 5:21-22, kita membaca kata-kata ini yang membahas tentang pembunuhan:

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum (Matius 5:21-22).

Dalam Matius 5:27-28, Yesus merujuk kepada perzinaan demikian:

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Matius 5:27-28).

Dalam Matius 5:31-32, Ia membahas tentang perceraian:

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah (Matius 5:31-32).

Dalam Matius 5:33-34, kita melihat pola itu sekali lagi ketika Yesus berbicara mengenai sumpah:

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah (Matius 5:33-34).

Yesus juga berbicara tentang balas dendam dalam Matius 5:38-39:

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:38-39).

Dan akhirnya, Kristus mengajar tentang mengasihi musuh dalam Matius 5:43-44:

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:43-44).

Semua pengikut Kristus harus setuju bahwa Yesus adalah wahyu Allah yang tertinggi dan bahwa ajaran-Nya jauh lebih lengkap dibandingkan dengan ajaran-ajaran Perjanjian Lama. Ia menembus ke dalam hati dan memberikan penjelasan yang seluas mungkin dengan cara yang tidak pernah dijangkau oleh Perjanjian Lama. Namun, amat disayangkan, banyak orang Kristen telah berpandangan ayat-ayat ini mengajarkan bahwa ajaran Yesus tentang pembunuhan, perzinaan, perceraian, sumpah, balas dendam, dan mengasihi musuh sesungguhnya berkontradiksi dengan ajaran-ajaran Perjanjian Lama. Mereka biasanya menggunakan penalaran ini: Mereka mengatakan bahwa Perjanjian Lama mengajarkan bahwa pembunuhan secara fisik adalah salah, tetapi Yesus telah mengalihkan perhatian kepada hati yang penuh kebencian. Perjanjian Lama melarang perzinaan secara fisik, tetapi Yesus meneruskannya dengan berbicara tentang perzinaan di dalam hati. Tentang perceraian, banyak orang percaya bahwa Perjanjian Lama mengizinkan perceraian dengan berbagai alasan yang sangat luas cakupannya, sedangkan Yesus tidak menyetujui ajaran Perjanjian Lama dan menekankan perzinaan sebagai satu-satunya dasar untuk bercerai. Perihal sumpah, mereka berargumen bahwa Perjanjian Lama melarang kita untuk melanggar sumpah, tetapi Yesus menyuruh para pengikut-Nya untuk tidak pernah bersumpah. Penafsir-penafsir yang sama juga meyakini bahwa Perjanjian Lama mendukung praktik balas dendam pribadi —”mata ganti mata” — tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengampuni. Mereka berasumsi bahwa Perjanjian Lama mengajarkan kita untuk mengasihi sesama dan membenci musuh, tetapi Yesus memperluas perintah tersebut untuk mengasihi musuh kita juga.

Jika pemahaman populer tentang pengajaran Yesus ini memang mendekati kebenaran, maka kita mempunyai alasan yang kuat untuk berpikir bahwa Yesus datang untuk membebaskan para pengikut-Nya dari otoritas etika Perjanjian Lama. Namun, ketika kita merenungkan dengan lebih saksama tentang apa yang sebenarnya Yesus katakan dalam Matius 5, kita segera menemukan bahwa pandangan ini jauh dari memadai. Sekalipun wahyu Yesus melampaui Perjanjian Lama, Ia tidak pernah sedikit pun menentang ajaran-ajaran Perjanjian Lama. Sebaliknya, tujuan Yesus adalah untuk mengukuhkan Perjanjian Lama dengan meluruskan beberapa kesalahpengertian yang umum terhadap ajaran-ajaran tersebut.

Untuk memahami Yesus dengan benar, kita perlu mengerti bahwa dalam Matius 5, Yesus bukan tidak setuju dengan Perjanjian Lama. Sebaliknya, Ia menentang cara-cara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menafsirkan Perjanjian Lama. Dalam zaman Yesus, hanya sedikit orang yang mempunyai akses langsung kepada Alkitab, dan karenanya orang biasa di Israel sangat bergantung pada pengajaran dari para pemimpin agama mereka. Seperti yang akan kita lihat, ketika Yesus menunjukkan kontras dalam Matius 5 yang baru saja kita baca, Ia mengontraskan pandangan pribadi-Nya, yang selaras dengan Perjanjian Lama, dengan tradisi-tradisi yang telah ditambahkan kepada Perjanjian Lama oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ada sejumlah detail yang bisa membuktikan hal ini.

Pertama, kita harus melihat bahwa Yesus membahas hal-hal yang telah dikatakan dan didengarkan. Dengan kata lain, Ia sedang membahas tradisi lisan, dan bukan Perjanjian Lama itu sendiri. Ketika Yesus dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru merujuk kepada Perjanjian Lama, mereka berbicara tentang apa yang “tertulis” atau “dibaca.” Dan tidak pernah di dalam Perjanjian Baru, Yesus menentang apa pun yang diperkenalkan dengan kata-kata tersebut. Namun dalam Khotbah di Bukit, Ia menentang apa yang telah “dikatakan” kepada orang banyak; Ia menentang apa yang telah mereka “dengar”. Secara sederhana, Yesus mengontraskan apa yang dikatakan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dengan apa yang Ia katakan. Yesus bukannya tidak setuju dengan apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, tetapi dengan tradisi lisan yang telah disebarluaskan oleh guru-guru lain di Israel. Itu sebabnya Ia selalu mengacu kepada apa yang telah dikatakan dan bukan kepada apa yang tertulis.

Berdasarkan hal ini, kita perlu lebih mencermati apa yang sesungguhnya Yesus katakan tentang interpretasi lisan dari Perjanjian Lama ini. Mari kita pikirkan sekali lagi tentang kontras yang Yesus simpulkan.

Sehubungan dengan isu pembunuhan, sekalipun banyak orang percaya bahwa Yesus telah memperluas larangan untuk membunuh sehingga mencakup larangan untuk membenci, penting untuk disadari bahwa Perjanjian Lama tidak hanya mengutuk pembunuhan, tetapi juga mengutuk perpecahan/perselisihan di antara umat Allah. Gambaran ideal Perjanjian Lama tentang keharmonisan dan perdamaian di antara umat Allah, diekspresikan dengan baik dalam Mazmur 133:1,

Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (Mazmur 133:1).

Tradisi populer di zaman Yesus memaklumi perpecahan, selama hal itu tidak menjurus kepada pembunuhan secara fisik. Namun secara kontras, Yesus menentang ajaran yang salah ini dengan menegaskan kembali standar yang sesungguhnya dari Perjanjian Lama. Ia melakukannya dengan mengasosiasikan larangan untuk membunuh dengan larangan untuk membenci.

Mengenai perzinaan, banyak orang percaya bahwa Yesus telah memperluas larangan untuk berzina secara fisik sehingga mencakup larangan untuk berzina di dalam hati. Namun sekali lagi, mudah bagi kita untuk melihat bahwa Yesus bukan menentang atau memperluas tuntutan Perjanjian Lama. Lagipula Perjanjian Lama tidak saja menuntut umat Allah untuk menjauhi perzinaaan secara fisik; tetapi juga melarang tindakan mengingini, atau perzinaaan di dalam hati, seperti yang kita baca dalam Keluaran 20:17:

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu (Keluaran 20:17).

Hukum kesepuluh secara eksplisit melarang orang untuk mengingini istri orang lain. Jadi kita melihat bahwa argumen Yesus tidak menyangkal hukum Perjanjian Lama, tetapi menegaskan kembali hukum Perjanjian Lama.

Mengenai perceraian, banyak penafsir meyakini bahwa Yesus sekali lagi tidak sependapat dengan Perjanjian Lama. Namun, kita perlu mengerti bahwa di zaman Yesus, banyak pemimpin agama di Israel percaya bahwa hukum Perjanjian Lama telah memberi hak kepada mereka untuk menceraikan istri mereka hampir dengan alasan apa pun, selama mereka mengeluarkan surat cerai yang resmi. Namun, kita semua tahu bahwa Perjanjian Lama mengindikasikan dengan jelas bahwa Allah tidak menyetujui kelakuan semacam itu. Seperti kata Maleakhi 2:16:

“Aku membenci perceraian,” firman TUHAN, Allah Israel (Maleakhi 2:16).

Dalam Matius 19:3-9, Yesus menjelaskan posisi-Nya terhadap perceraian secara lebih mendetail. Di situ Ia menegaskan bahwa keberatan-Nya terhadap perceraian didasari oleh Perjanjian Lama itu sendiri, khususnya oleh narasi penciptaan yang melibatkan Adam dan Hawa.

Mengenai sumpah, banyak orang berpikir bahwa Yesus menentang praktik Perjanjian Lama untuk mengambil sumpah. Namun, sekali lagi, Yesus bukan menentang ajaran Perjanjian Lama, melainkan penyelewengan terhadap ajaran itu. Rupanya pada zaman Yesus, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa berbohong itu boleh, selama orang tidak bersumpah untuk melaksanakan ucapannya. Yesus tidak setuju dengan ajaran ini dan bersikeras bahwa Perjanjian Lama melarang segala bentuk kebohongan, bukan hanya kebohongan yang melanggar sumpah. Seperti yang kita baca dalam Amsal 6:16-17:

Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, … (Amsal 6:16-17).

Itu sebabnya Yesus selanjutnya mengatakan dalam Matius 5:37:

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Matius 5:37).

Yesus bukannya tidak setuju dengan Perjanjian Lama, melainkan Ia menunjukkan bahwa tradisi lisan dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu gagal memenuhi standar Perjanjian Lama.

Mengenai balas dendam, banyak orang meyakini bahwa Perjanjian Lama mengizinkan balas dendam, sedangkan Yesus menentangnya. Tetapi pada awalnya, hukum Perjanjian Lama tentang “mata ganti mata” dalam Keluaran 21:24 dirancang untuk memandu para hakim di dalam sidang pengadilan resmi di Israel. Dengan kata lain, para hakim harus mendasarkan setiap putusan dan hukuman secara adil dan proporsional sesuai dengan kejahatan yang dilakukan. Standar ini tidak pernah dimaksudkan untuk diterapkan ke dalam hubungan antarpribadi. Sebaliknya, Perjanjian Lama mengajarkan bahwa kebaikan dan belas kasihan yang harus menjadi pedoman bagi tingkah laku dalam konteks ini. Seperti yang kita baca dalam Imamat 19:18,

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, ... Akulah TUHAN (Imamat 19:18).

Pada zaman Yesus, “mata ganti mata” telah dipahami sebagai persetujuan Allah terhadap balas dendam pribadi. Mereka percaya bahwa setiap kali seseorang berbuat sesuatu kepada Anda, maka Anda berhak untuk membalasnya dengan melakukan sesuatu yang sama mencelakakannya terhadap orang tersebut. Namun, Yesus tidak menyetujui penyelewengan hukum ini, dan menegaskan ajaran Perjanjian Lama bahwa kita harus menunjukkan kebaikan dalam hubungan antarpribadi.

Akhirnya, dalam hal mengasihi musuh, banyak orang secara keliru percaya bahwa Perjanjian Lama mengajarkan bahwa membenci musuh adalah hal yang lumrah. Sebagian guru pada zaman Yesus rupanya menyimpulkan dari perintah dalam Imamat 19:18 yang berbunyi “kasihilah sesamamu”, bahwa “bencilah musuhmu” juga merupakan hal yang sepatutnya. Namun, tentunya Perjanjian Lama itu sendiri tidak pernah mengatakan demikian. Bahkan dalam Keluaran 23:4, kita membaca perintah-perintah ini tentang bagaimana memperlakukan musuh:

Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu (Keluaran 23:4).

Jadi, sekali lagi, Yesus tidak mempertentangkan pandangan pribadi-Nya dengan pandangan-pandangan Perjanjian Lama. Sebaliknya, Ia menentang tafsiran yang salah pada zaman-Nya dan menegaskan kembali ajaran Perjanjian Lama yang sebenarnya.

Kita benar-benar salah memahami ajaran Yesus jika kita beranggapan bahwa Dia mengajarkan sesuatu yang menentang Perjanjian Lama itu sendiri. Seperti yang akan kita lihat, Yesus sering menyingkapkan tujuan yang selama ini ingin dicapai oleh Perjanjian Lama, dan Ia menjelaskan keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang telah diantisipasi oleh Perjanjian Lama. Dan dalam pengertian ini, ajaran-ajaran-Nya itu jauh melampaui ajaran Perjanjian Lama, karena menyingkapkan lebih banyak tentang karakter dan kehendak-Nya bagi umat-Nya. Akan tetapi, Yesus tidak pernah menentang Perjanjian Lama atau pengajarannya. Sebaliknya, Ia menentang penafsiran yang keliru terhadap Perjanjian Lama.

Setelah melihat bahwa komentar Yesus yang terkesan negatif tentang Perjanjian Lama justru merupakan afirmasi terhadap Perjanjian Lama, kita perlu melihat bagian-bagian di mana kita dengan mudah melihat afirmasi Yesus terhadap otoritas dan relevansi Perjanjian Lama bagi para pengikut-Nya.

Afirmasi Positif

Secara umum, ada banyak cara bagi kita untuk melihat pandangan positif Yesus terhadap Kitab Suci Perjanjian Lama. Misalnya, Ia secara konstan merujuk kepada Kitab Suci Perjanjian Lama sebagai dasar bagi ajaran-Nya sendiri. Ia mendemonstrasikan kemuliaan-Nya dalam peristiwa transfigurasi di atas gunung, ketika Ia berdiri di antara Musa, sang pemberi taurat, dan Elia, sang kepala nabi. Dan di sepanjang hidup-Nya¸ Ia memiliki ketetapan hati untuk menaati seluruh pengajaran Perjanjian Lama.

Namun, untuk memberikan contoh yang spesifik tentang sikap positif Yesus terhadap Perjanjian Lama, kita akan melihat kembali Khotbah di Bukit. Dengarkan apa yang Yesus katakan dalam Matius 5:17-18.

Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi (Matius 5:17-18).

Di sini, Yesus menyatakan dengan sangat tegas bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan Kitab Taurat dan para Nabi. Ia bersikeras bahwa setiap detail dalam Perjanjian Lama, bahkan sampai ke huruf atau iota terkecilnya, akan tetap berlaku sampai kesudahan segala sesuatu.

Sangat disayangkan, sering kali orang Kristen berpikir bahwa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kebalikan dari apa yang dikatakan-Nya. Mereka membaca, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya,” dan mereka berpikir bahwa yang Yesus maksudkan adalah, “Aku tidak datang untuk meniadakan [Perjanjian Lama] tetapi untuk menjadikannya tidak relevan.” Namun, dengan membaca perkataan Yesus selanjutnya dalam Matius 5:19, kita tahu bahwa bukan itu maksud Yesus. Di sana kita membaca:

… siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga (Matius 5:19).

Perhatikan apa yang Yesus katakan di sini. Jika orang melanggar atau mengajak orang lain untuk mengabaikan bahkan perintah yang terkecil sekalipun, mereka akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Sorga. Yesus tahu bahwa para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sangat selektif dalam pendekatan mereka terhadap Perjanjian Lama. Itu sebabnya, Ia bersikeras bahwa murid-murid-Nya harus mengakui dan mengikuti setiap detail dari seluruh Perjanjian Lama, bukan hanya kepada bagian-bagian tertentu yang dipilih. Kristus menuntut para pengikut-Nya yang setia untuk tunduk pada setiap detail dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Bahkan,Yesus sangat menekankan otoritas Perjanjian Lama sehingga Ia menegaskan bahwa kita dapat mengharapkan akhir kehidupan yang lebih baik dari pada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hanya jika kita tunduk kepada seluruh Perjanjian Lama. Seperti yang Yesus katakan dalam Matius 5:20:

Sebab Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat , kamu pasti tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga (Matius 5:20, diterjemahkan dari NIV)

Kita semua perlu mengakui bahwa perkataan Yesus di sini telah menimbulkan banyak pertanyaan praktis. Apa artinya tunduk kepada ajaran Perjanjian Lama di dalam dunia modern? Bagaimanakah orang Kristen pada masa kini harus menaati perintah-perintah Perjanjian Lama, bahkan sampai kepada perintah yang terkecil? Semuanya ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang akan kami bahas dalam serial pelajaran ini, tetapi di sini, cukuplah bagi kita untuk menegaskan prinsip dasar yang diajarkan dengan begitu jelas oleh Yesus — Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk menerima Perjanjian Lama sebagai Firman Allah yang berotoritas. Mereka tidak boleh menolaknya karena menganggapnya tidak relevan. Mereka harus mempelajari dan menaati setiap dimensinya.

Ajaran Paulus

Setelah kita melihat bagaimana Yesus mengajar kita untuk meyakini bahwa Perjanjian Lama relevan bagi kehidupan Kristen, kita perlu beralih sejenak kepada kesaksian rasul Paulus. Untuk memahami pengesahan rasul Paulus terhadap Perjanjian Lama, kita akan mempelajari komentar-komentarnya tentang Perjanjian Lama dengan cara yang sama seperti ketika kita mempelajari perkataan-perkataan Yesus. Pertama, kita akan membahas komentar Paulus yang terkesan negatif tentang Taurat Perjanjian Lama. Dan kedua, kita akan mencermati afirmasi positifnya terhadap relevansi Perjanjian Lama. Mari kita tinjau terlebih dahulu beberapa perkataan Paulus yang terkesan negatif tentang Perjanjian Lama.

Komentar Negatif

Sayangnya, banyak orang Kristen pada masa kini percaya bahwa Paulus sesungguhnya bersikap sangat negatif terhadap Perjanjian Lama. Orang-orang percaya yang tulus ini mangacu kepada banyak nas dalam surat-surat Paulus, tetapi demi kepentingan diskusi kita, kita hanya akan mengambil satu contoh. Dengarkan kata-kata ini dari Galatia 3:1-5:

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia! Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerah-kan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil? (Galatia 3:1-5).

Kita harus dengan yakin mengakui bahwa Paulus percaya Kristus telah mewahyukan lebih banyak tentang Allah dan kehendak-Nya ketimbang yang telah diwahyukan oleh Perjanjian Lama. Ia percaya bahwa iman Perjanjian Baru merupakan wahyu yang lebih lengkap. Namun, sering kali orang Kristen yang bermaksud baik membaca nas semacam ini dan mengira bahwa Paulus percaya Perjanjian Lama sudah tidak relevan. Padahal kenyataannya, Paulus tidak menyangkal relevansi Perjanjian Lama. Ia hanya menolak penyalahgunaan Perjanjian Lama.

Secara spesifik, dalam ayat 2, Paulus bertanya apakah jemaat Galatia telah menerima Roh Kudus oleh taurat Perjanjian Lama atau oleh iman. Dalam ayat 3, ia bertanya tentang sandaran mereka. Apakah mereka akan mulai bersandar pada usaha manusia, setelah mereka memulai dengan Roh? Dan dalam ayat 5, ia bertanya apakah mujizat-mujizat dari Roh terjadi karena mereka melakukan taurat atau karena mereka percaya kepada injil? Dalam setiap contoh, maksud Paulus adalah bahwa berkat-berkat iman Kristen tidak diperoleh karena menjalankan taurat, melainkan melalui iman kepada injil Kristus.

Pernyataan ini, serta pernyataan-pernyataan serupa dalam tulisan-tulisan Paulus membuat banyak orang berpikir bahwa Paulus menolak relevansi dan otoritas Perjanjian Lama dan menggantikannya dengan iman Kristen serta Roh Kudus. Bahkan, argumennya sering menyatakan: Menganggap bahwa Perjanjian Lama relevan bagi kehidupan Kristen sehari-hari sama saja dengan berpaling dari injil.

Namun, ketika kita lebih mencermati konteks dari ayat-ayat ini, kita mendapati bahwa sama seperti Yesus, Paulus tidak sedang menentang Perjanjian Lama itu sendiri. Yang ditentangnya adalah penyalahgunaannya. Paulus secara tegas menentang penyalahgunaan Perjanjian Lama sebagai sumber agama yang legalistik, agama yang mengatakan bahwa keselamatan diperoleh karena perbuatan baik. Di dalam nas ini, Paulus menentang para guru yang menyebabkan jemaat Galatia mengalami penghakiman dari taurat melalui ajaran palsu yang mengatakan bahwa keselamatan diperoleh dengan menaati taurat. Kontras dengan ajaran palsu ini, Paulus mengakui bahwa injil Kristus selaras dengan ajaran yang sebenarnya dari Perjanjian Lama. Dengarkan bagaimana Paulus membahas hal tersebut lebih lanjut dalam Galatia 3. Dalam ayat 10-13, kita membaca:

Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.” Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:10-13).

Seperti yang ditegaskan oleh nas ini, Paulus menentang mereka yang mengandalkan ketaatan kepada Taurat bagi keselamatan mereka. Ia menentang mereka yang ingin dibenarkan oleh Taurat. Jika seperti ini praktik religius kita, maka terkutuklah kita, karena kita tidak akan pernah bisa taat secara sempurna. Satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari kutuk ini adalah melalui iman kepada Kristus yang menanggung kutuk kita di dalam diri-Nya.

Namun, apakah Paulus menentang Perjanjian Lama itu sendiri? Apakah ia menganggap ajaran yang sesungguhnya dari Perjanjian Lama tidak relevan bagi orang-orang Kristen? Sama sekali tidak. Bahkan, Paulus memakai Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa keselamatan adalah hanya melalui iman. Dalam Galatia 3:11, ia mengutip Habakuk 2:4, di mana sang nabi menyatakan:

Orang yang benar akan hidup oleh iman (Habakuk 2:4, diterjemahkan dari NIV).

Menurut Paulus, injil Kristen tentang keselamatan hanya melalui iman sesungguhnya setia kepada ajaran Perjanjian Lama.

Setelah kita melihat bahwa komentar Paulus yang terkesan negatif tentang Perjanjian Lama ternyata adalah komentar negatif tentang penyalahgunaan Perjanjian Lama sebagai sistem pembenaran lewat perbuatan baik, kita perlu juga melihat bahwa rasul Paulus secara tegas mengukuhkan otoritas dan relevansi Perjanjian Lama bagi para pengikut Kristus.

Afirmasi Positif

Secara umum, Paulus sebenarnya banyak sekali merujuk kepada Perjanjian Lama untuk membenarkan teologinya sendiri. Kutipan-kutipan dan alusi-alusi kepada Perjanjian Lama muncul di sepanjang tulisannya. Tetapi secara lebih eksplisit, Paulus juga mengajarkan bahwa orang Kristen seharusnya yakin bahwa Perjanjian Lama sangat relevan bagi kehidupan mereka. Renungkan perkataannya dalam Roma 15:4:

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci (Roma 15:4).

Menurut nas ini, Perjanjian Lama sangat diperlukan untuk menumbuhkan dan memelihara pengharapan kita sebagai orang Kristen. Ketika kita membaca kisah, mazmur, janji, serta penghakiman dari Perjanjian Lama, pengharapan kita di dalam Kristus akan bertumbuh.

Namun, yang pasti pengukuhan Paulus yang paling kuat dan jelas tentang relevansi Perjanjian Lama ditemukan dalam 2 Timotius 3:16-17:

Seluruh Kitab Suci dinapaskan-Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, supaya manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17, diterjemahkan dari NIV).

Kebanyakan orang Kristen sudah mengenal ayat ini, tetapi kita sering berpikir bahwa kata-kata “seluruh Kitab Suci” merujuk kepada Perjanjian Baru. Tanpa diragukan, kata-kata ini berdampak kepada pandangan kita tentang Perjanjian Baru, tetapi ketika Paulus menulis kepada Timotius di bagian lain tentang “Kitab Suci”, yang ada di benaknya terutama adalah Perjanjian Lama. Jadi, perhatikan hal-hal yang luar biasa, yang dapat diberikan oleh Perjanjian Lama kepada kita. Perjanjian Lama dapat mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran untuk setiap perbuatan baik. Singkatnya, Paulus mengatakan bahwa Perjanjian Lama begitu relevan sehingga hampir tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Kristen.

Jadi, ketika kita mulai mempelajari Perjanjian Lama, kita tidak hanya harus mengakui adanya jarak di antara kita dengan Perjanjian Lama. Kita juga perlu melihat bahwa Perjanjian Baru memanggil kita untuk memiliki harapan yang tinggi akan relevansi Perjanjian Lama bagi kita saat ini. Mempelajari Perjanjian Lama bukanlah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak relevan. Mempelajari Perjanjian Lama berarti mempelajari kitab yang dapat menuntun kita kepada hikmat bagi keselamatan.

Setelah ini, kita akan beralih kepada topik utama yang ketiga: bagaimana menerapkan Perjanjian Lama dalam zaman kita.

PENERAPAN BAGI KITA

Hanya dari pembahasan singkat kita dalam pelajaran ini, seharusnya jelas bahwa tugas untuk memahami dan menerapkan Perjanjian Lama sangatlah penting. Namun, sungguh melegakan ketika kita mengetahui bahwa Roh Kudus menolong para pengikut Kristus untuk mempelajari dan menerapkan Perjanjian Lama. Sebenarnya, Ia memimpin dan mengajar kita dengan cara-cara yang jauh melampaui apa yang mampu kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Namun, meskipun hal ini melegakan, kita tidak boleh membiarkan diri kita terlena sehingga kita menuntut Roh Kudus untuk mengerjakan semuanya. Sebaliknya, kita bertanggung jawab di hadapan Allah untuk meraih dan menerima tantangan untuk belajar menerapkan Perjanjian Lama secara bertanggung jawab dengan berusaha sebaik mungkin. Rasul Paulus berbicara tentang tanggung jawab ini kepada Timotius dalam 2 Timotius 2:15:

Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu (2 Timotius 2:15).

Untuk menelusuri penerapan Perjanjian Lama bagi orang Kristen pada masa kini, kita akan menyentuh tiga topik. Pertama, kita akan menelusuri tantangan yang kita hadapi ketika kita berusaha untuk menerapkan Perjanjian Lama; kedua, kaitan yang memungkinkan kita untuk menerapkan kitab yang sudah tua ini dalam zaman kita; dan ketiga, perkembangan yang perlu kita perhitungkan ketika kita menerapkan Perjanjian Lama.

Tantangan

Tantangan apakah yang kita hadapi ketika kita berusaha memahami dan menerapkan Perjanjian Lama dalam kehidupan kita saat ini? Ada banyak cara untuk melukiskan tantangan ini, tetapi kita akan memusatkan perhatian kita pada satu hal yang paling utama: Kita harus mempelajari cara untuk menjembatani jarak antara diri kita dan Perjanjian Lama. Kita harus mempelajari cara untuk mengatasi jarak yang memisahkan kita dari Perjanjian Lama, agar kita dapat memanfaatkan relevansinya bagi kita saat ini.

Mari kita menjelaskan hal ini sesederhana mungkin. Seperti yang telah kita lihat, Allah memberikan Perjanjian Lama kepada umat-Nya yang hidup jauh sebelum kita agar mereka dapat hidup bagi-Nya di zaman mereka. Namun, kita juga telah melihat bahwa Ia telah memberikan Perjanjian Lama bagi kita supaya kita dapat hidup berdasarkan hal itu juga. Akan tetapi, kita hidup di dunia yang sangat berbeda dengan Perjanjian Lama. Karenanya, ada jarak, ada jurang yang lebar di antara kita dan Perjanjian Lama, yang mempersulit kita untuk memahami bagaimana menerapkan Perjanjian Lama ke dalam kehidupan kita. Jadi, apabila kita hendak menerapkan Perjanjian Lama di zaman kita secara bertanggung jawab, kita harus melakukan tiga hal: Pertama, kita harus memahami dunia kuno yang menjadi konteks asli dari Perjanjian Lama. Kedua, kita harus menyeberangi jarak historis antara kita dengan Perjanjian Lama, dengan mengamati bagaimana dunia kita berbeda dengan dunia Perjanjian Lama. Dan ketiga, kita harus membawa apa yang kita pelajari di dalam Perjanjian Lama melintasi jarak tersebut dan menerapkannya bagi diri kita dan bagi orang-orang lain yang hidup di masa kini.

Perhatikan cara rasul Paulus merangkumkan tantangan untuk penerapan di dalam 1 Korintus 10:11. Saat membahas kisah Perjanjian Lama tentang keluarnya Israel dari Mesir, Paulus berkata:

Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba (1 Korintus 10:11).

Perhatikan bahwa Paulus setidaknya mengatakan tiga hal di sini yang penting bagi kita. Pertama, ia berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan apa yang dituliskan tentang peristiwa-peristiwa itu, “semuanya ini terjadi … dan dituliskan.” Kedua, Paulus berbicara tentang dirinya dan tentang saudara-saudara seiman di Korintus ketika ia berkata, “semuanya ... dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita.” Dan ketiga, Paulus merujuk kepada jarak di antara jemaat Korintus dengan segala peristiwa dan tulisan kuno itu ketika ia menyebut orang Kristen sebagai “kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa Paulus dengan jelas memahami bahwa orang percaya dalam Perjanjian Baru hidup pada masa yang berbeda dengan orang percaya dalam Perjanjian Lama. Kita berdiri di zaman akhir, pada saat-saat penggenapan sejarah. Dari kata-kata rasul Paulus ini, kita melihat tantangan dari penerapan adalah bahwa kita harus siap untuk berinteraksi dengan dunia kuno itu, dengan jarak waktu di antara kita, dan dengan dunia kita pada masa kini.

Pertama-tama, penerapan yang tepat dari Perjanjian Lama untuk masa kini mencakup meninggalkan dunia kita. Salah satu tugas utama kita adalah menafsirkan Perjanjian Lama di dalam konteksnya sendiri. Tentunya tidak ada orang yang dapat melakukannya dengan sempurna. Kita tidak bisa sepenuhnya meninggalkan perspektif modern kita. Namun, kita semua tahu apa bedanya berpura-pura bahwa sebuah kitab kuno itu ditulis langsung kepada kita dengan berusaha secara jujur untuk membaca suatu kitab di dalam konteks sejarahnya. Setiap orang yang secara serius mempelajari Perjanjian Lama harus bergumul dengan fakta bahwa kita sedang membaca dan menerapkan suatu kitab yang ditulis secara khusus untuk mereka yang hidup ribuan tahun yang lalu. Dalam pengertian yang sangat penting, kita tidak sedang mendengarkan Allah dan para penulis Kitab Suci yang diinspirasikan itu berbicara secara langsung kepada kita; kita sedang menguping pembicaraan mereka dengan orang lain.

Karena alasan ini, pada saat tertentu kita harus selalu menanyakan apa makna asali dari bagian-bagian Kitab Suci yang dipelajari. Makna asali dari nas Perjanjian Lama menjelaskan maksud yang semula mengenai apa yang Allah inginkan untuk dipelajari oleh umat-Nya dari Perjanjian Lama. Apa sajakah prioritas mereka? Apa yang mereka percayai? Bagaimanakah situasi mereka? Bagaimanakah mereka memahami nas-nas Perjanjian Lama yang dimaksud? Dalam pelajaran-pelajaran berikutnya dalam serial ini, kita akan mempelajari cara untuk membaca Perjanjian Lama dengan mengunjungi kembali dunia para penulis dan pendengar aslinya.

Yang kedua, untuk menerapkan Perjanjian Lama secara tepat, kita harus mencermati masa di antara Perjanjian Lama dan zaman kita, untuk melihat berbagai kaitan serta perkembangan yang sudah terjadi dalam iman alkitabiah. Seperti yang akan kita lihat, ajaran-ajaran Perjanjian Lama berkembang dan bertumbuh seiring dengan waktu. Bukan berarti Allah mengatakan sesuatu kepada umat-Nya satu kali dan tidak pernah lagi mengatakan hal lain apa pun yang berkaitan dengan topik tersebut. Sebaliknya, selama rentang waktu historis di antara Perjanjian Lama dengan zaman kita, Allah memberikan jauh lebih banyak wahyu. Sebagian dari penambahan wahyu ini muncul selama Perjanjian Lama itu sendiri, dan sebagian lainnya muncul di dalam Perjanjian Baru. Namun, di dalam semuanya itu, untuk menjembatani jarak ini, kita harus mempertimbangkan semua yang telah Allah katakan.

Yang ketiga, tantangan bagi penerapan adalah kita juga harus memegang teguh gagasan bahwa Perjanjian Lama ditulis dengan mempertimbangkan generasi yang akan datang. Seperti yang ditulis oleh Paulus, Perjanjian Lama “ditulis untuk kita.” Fakta ini menuntut kita untuk memperhatikan berbagai tanggung jawab yang kita miliki sebagai orang percaya di dunia modern. Kebutuhan-kebutuhan umat Allah pada zaman sekarang dalam banyak hal mirip dengan kebutuhan umat Allah di masa lampau, tetapi ada juga kebutuhan yang baru dan berbeda. Jika kita ingin menerapkan Perjanjian Lama pada masa kini secara efektif, kita harus mengenal diri kita dan mengenal orang-orang yang akan menjadi sasaran dari penerapan tersebut.

Setelah kita melihat tantangan yang dihadapi oleh setiap orang yang ingin menerapkan Perjanjian Lama pada zaman kita, kita harus beralih kepada fokus kita yang kedua dalam topik penerapan: Apa sajakah kaitan yang memungkinkan kita untuk membawa ajaran dari dunia Perjanjian Lama melintasi jarak historis ke dalam dunia kita sekarang? Persamaan-persamaan apakah yang membuat hal ini menjadi mungkin?

Kaitan

Agar suatu buku relevan bagi kehidupan seseorang, perlu ada semacam kaitan di antara pembaca dengan isi buku itu. Entah bagaimana, harus ada cukup persamaan di antara apa yang dikatakan buku itu dengan apa yang dialami pembacanya dalam kehidupan mereka sendiri agar buku itu dapat diterapkan. Ini berlaku untuk buku-buku secara umum, dan juga berlaku untuk Perjanjian Lama secara khusus. Jadi dalam bagian ini kita perlu bertanya, kaitan apa sajakah yang ada di antara dunia Perjanjian Lama dengan dunia kita, yang membuatnya dapat diterapkan atau relevan bagi kehidupan kita sekarang ini?

Ada banyak cara untuk mendaftarkan kaitan-kaitan ini, tetapi bagi saya, akan membantu jika kita berpikir tentang tiga persamaan yang kita miliki dengan pembaca asli Perjanjian Lama. Secara khusus, kita mempunyai Allah yang sama, kita hidup di dalam dunia yang sama, dan kita juga adalah jenis manusia yang sama. Marilah kita jabarkan ketiga jenis kaitan ini.

Allah Yang Sama

Pertama, ketika kita mempelajari Perjanjian Lama bersama-sama, kita harus selalu mengingat fakta bahwa Allah orang Kristen dalam Perjanjian Baru sama dengan Allah yang kita baca dalam Perjanjian Lama. Orang Kristen yang setia pada masa kini menyembah dan melayani Allah yang sama yang juga dilayani oleh umat Israel zaman dahulu, bahkan sebelum Yesus lahir.

Kenyataan bahwa kita melayani Allah yang sama menciptakan suatu kaitan yang sangat penting oleh karena Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah tidak berubah (immutable) atau tidak dapat berubah (unchangable). Ia tetap sama sekarang seperti halnya dahulu pada zaman kuno. Namun, kita harus berhati-hati di sini. Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu tidak berubah, tetapi hanya dalam pengertian tertentu. Ketidakberubahan (immutability) bukan berarti bahwa Allah tidak berbuat apa-apa. Juga tidak berarti bahwa Ia tidak bergerak (immobile). Sebaliknya, seperti yang diajarkan oleh teologi Kristen tradisional, Allah tidak berubah dalam tiga hal utama. Ia tidak berubah dalam keputusan-Nya yang kekal, dalam karakter atau atribut-Nya, atau dalam janji-janji perjanjian-Nya. Marilah kita mengupas hal-hal ini, di mana ketidakberubahan Allah menjamin bahwa Ia tetap sama sekarang ini seperti halnya pada zaman Perjanjian Lama.

Pertama, keputusan kekal Allah tidak berubah. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa segala sesuatu yang telah Allah lakukan, dan segala sesuatu yang sedang Allah lakukan adalah bagian dari suatu rancangan tunggal yang tidak berubah. Seperti yang nabi Yesaya katakan dalam Yesaya 46:10:

[Allah]... yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan (Yesaya 46:10).

Dalam pelajaran-pelajaran ini, kita akan menyelidiki sasaran dan tujuan dari rencana kekal ini secara lebih terperinci, tetapi di sini, cukuplah kita katakan bahwa ketidakberubahan dari rencana kekal Allah mengajar kita bahwa maksud-maksud-Nya dalam Perjanjian Lama sejalan dengan tujuan-Nya dalam Perjanjian Baru. Apa pun perbedaan yang kita lihat, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak mewakili dua rencana yang berbeda — yang satu menggantikan atau berkontradiksi dengan yang lainnya. Sebaliknya, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah fase-fase atau langkah-langkah dari satu rencana tunggal yang telah dan akan selalu menggerakkan sejarah kepada satu sasaran yang tidak berubah.

Kedua, Allah juga tidak berubah dalam karakter atau atribut-Nya. Allah menunjukkan aspek yang berbeda dari karakter-Nya pada saat-saat yang berbeda, kadang-kadang Ia menunjukkan belas kasihan, kadang-kadang Ia menunjukkan murka-Nya, tetapi karakter-Nya yang selalu konsisten — atau natur kekal-Nya — tidak pernah berubah. Perhatikan cara penulis Ibrani berbicara tentang natur kekal Kristus dalam Ibrani 1:10-12:

Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulung mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan (Ibrani 1:10-12).

Dan sebagaimana Yakobus 1:17 mengatakan:

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17).

Allah kita tidak berubah; sebaliknya, karakter-Nya selalu tetap sama.

Sayangnya, kita hidup di zaman ketika banyak orang Kristen telah meragukan konsistensi karakter Allah. Mereka bersikap seakan-akan Allah memiliki serangkaian atribut tertentu pada awalnya di dalam Alkitab dan kemudian serangkaian atribut lainnya sesudah itu. Saya masih ingat, ketika saya berumur 6 tahun, saya mendengarkan guru Sekolah Minggu saya bercerita kepada kami tentang bagaimana Yosua berperang di Yerikho. Selesai bercerita, dia melihat ke seluruh ruangan kepada kami dan berkata, “Anak-anak, Allah sangat kejam dalam Perjanjian Lama. Ia bahkan ingin agar anak-anak mati pada waktu itu. Namun, Allah telah berubah sekarang. Di dalam Perjanjian Baru, Ia mengasihi semua orang. Tidakkah kalian senang bahwa kalian hidup di zaman Perjanjian Baru dan bukan di zaman Perjanjian Lama?” Dan tentu saja, kita semua sangat senang karena hal ini. Tidak ada di antara kita yang mau dibunuh seperti anak-anak Yerikho.

Walaupun guru Sekolah Minggu saya waktu itu bermaksud baik, ia telah melakukan kesalahan yang serius. Karakter Allah belum berubah sejak zaman Perjanjian Lama. Sebaliknya, Ia tetap menghakimi di dalam Perjanjian Baru seperti halnya dalam Perjanjian Lama. Ia tetap penuh kasih di dalam Perjanjian Lama seperti halnya dalam Perjanjian Baru. Karakter Allah telah selalu dan akan selalu persis seperti itu saat ini. Ia tidak berubah.

Ketidakberubahan atribut Allah juga memberi kita alasan untuk meyakini bahwa Perjanjian Lama relevan untuk kehidupan kita sekarang ini. Terlepas dari fakta bahwa seakan-akan banyak tindakan Allah di dalam Perjanjian Lama yang dari luar tampak sangat berbeda dengan tindakan-tindakan-Nya dalam Perjanjian Baru, kita harus memegang teguh pengajaran Kitab Suci bahwa karakter Allah tidak pernah berubah. Setiap tindakan yang dilakukan-Nya dalam Perjanjian Lama merefleksikan karakter-Nya, dan karena karakter-Nya tidak pernah berubah sedikit pun, kita dapat yakin bahwa tindakan-tindakan-Nya pada masa Perjanjian Baru juga selaras dengan natur kekal-Nya. Jika orang percaya dalam Perjanjian Lama dan orang percaya dalam Perjanjian Baru memiliki Allah yang sama dengan atribut yang sama, kita seharusnya yakin bahwa kita akan melihat kemiripan di antara cara Allah berelasi kepada orang percaya dalam Perjanjian Lama dengan cara Allah berelasi dengan orang percaya dalam Perjanjian Baru. Kemiripan-kemiripan ini membuat Perjanjian Lama relevan untuk kehidupan kita.

Ketiga, di sepanjang Alkitab, Allah juga tidak berubah dalam janji-janji perjanjian-Nya. Allah selalu akan menggenapi segala sesuatu yang telah Ia janjikan untuk dinyatakan-Nya atau dilakukan-Nya bagi umat-Nya. Kita juga perlu berhati-hati di sini. Sering kali dalam Alkitab, Allah mengancam dan menawarkan kepada manusia hal-hal yang tidak dilaksanakan-Nya. Namun, ancaman dan tawaran tersebut bukanlah janji-janji perjanjian-Nya. Janji-janji perjanjian adalah hal-hal yang telah Allah janjikan dengan sumpah untuk dilakukan-Nya, dan sumpah-sumpah perjanjian ini tidak pernah gagal. Sebagaimana Ibrani 6:17 berkata:

Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah (Ibrani 6:17).

Allah tidak berubah dalam perjanjian-perjanjian-Nya. Dalam Kejadian 9:16, Allah berjanji bahwa setiap kali Ia melihat busur di langit, Ia akan mengingat perjanjian kekal-Nya dengan Nuh dan tidak akan pernah lagi memusnahkan dunia ini dengan air bah. Tiga kali dalam Kejadian 17, Allah berjanji bahwa perjanjian-Nya dengan Abraham akan menjadi perjanjian yang kekal, dan di dalam 1 Tawarikh 16:15-18, Daud mengingat kembali perjanjian Allah yang tidak pernah berakhir dengan para bapa leluhur untuk memberikan Tanah Perjanjian kepada Israel. Dalam 2 Samuel 23:5, Daud menyebutkan bahwa Allah telah mengikat perjanjian kekal dengannya berkenaan dengan klaim dari garis keturunannya atas takhta Israel. Dan sekalipun kegagalan dari Israel, Yehuda serta dinasti Daud telah membawa mereke ke pembuangan, Allah senantiasa memelihara perjanjian-Nya dengan mereka. Dalam Yehezkiel 16:59-60, kita membaca kata-kata ini:

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian. Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal (Yehezkiel 16:59-60).

Kita harus mengakui bahwa dari waktu ke waktu, sepertinya di dalam Perjanjian Baru Allah telah melupakan atau mengabaikan sebagian dari janji-Nya. Namun, kenyataannya adalah — ketika kita memahami Alkitab dengan benar, dengan mengingat bahwa Allah tidak berubah, kita akan mendapati bahwa setiap janji perjanjian-Nya sedang digenapi atau akan digenapi. Itulah sebabnya, kita mempunyai alasan yang kuat untuk percaya bahwa Perjanjian Lama dapat diterapkan dengan cara-cara yang bermanfaat bagi kita sebagai para pengikut Kristus di dalam zaman Perjanjian Baru. Allah telah memberikan banyak janji kepada orang percaya dalam Perjanjian Lama, dan kita dapat yakin bahwa dalam Perjanjian Baru, Ia sedang menepati janji-janji itu.

Setelah kita melihat bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dihubungkan dengan fakta bahwa kedua Perjanjian itu memiliki Allah yang sama yang tidak berubah, kita perlu beralih kepada jenis kaitan yang kedua di antara iman Perjanjian Lama dengan iman Kristen kita pada masa kini —fakta bahwa kita hidup di dalam dunia yang sama.

Dunia Yang Sama

Secara singkat, Perjanjian Lama berasal dari dan mendeskripsikan dunia yang sama di mana Anda dan saya hidup saat ini. Iman orang percaya dalam Perjanjian Lama tidak tumbuh di alam semesta yang lain. Iman itu berkembang di sini di planet ini, sehingga kita dan mereka memiliki sejarah dan rangkaian kondisi yang sama. Fakta-fakta ini seharusnya memimpin kita untuk melihat setidaknya dua macam kaitan di antara iman Perjanjian Baru kita dengan iman Perjanjian Lama. Pertama, Perjanjian Lama menyediakan latar belakang yang menjelaskan banyak pengalaman kita pada masa kini. Kedua, Perjanjian Lama menggambarkan situasi-situasi yang paralel dengan banyak pengalaman kita pada masa kini. Mari kita menyelidiki apa yang dimaksudkan ketika dikatakan bahwa Perjanjian Lama menyediakan latar belakang historis untuk pengalaman iman kita.

Salah satu fitur Perjanjian Lama yang paling jelas namun paling luar biasa adalah bahwa Perjanjian Lama melaporkan banyak sekali peristiwa dan pengajaran yang membentuk latar belakang bagi peristiwa-peristiwa dan pengajaran-pengajaran dalam periode Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama tidak terjadi dalam kehampaan, dan peristiwa-peristiwa itu bukan fiksi. Semuanya itu terjadi dalam sejarah yang riil dan banyak dari peristiwa itu yang meninggalkan tanda-tanda yang tidak terhapuskan di bumi untuk segala zaman.

Sebagai contoh, Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Israel di dalam Kitab Keluaran memberikan latar belakang yang esensial bagi pengajaran moral Perjanjian Baru. Sama halnya, dipilihnya Daud oleh Allah untuk menjadi kepala dari dinasti yang permanen bagi umat Allah, menyediakan latar belakang historis untuk silsilah Yesus sebagai sang Anak Daud yang agung. Fakta historis tentang pembuangan Israel ke negeri asing memberikan latar belakang bagi proklamasi Yesus bahwa Dia datang untuk membebaskan para tawanan. Dengan cara ini dan dengan banyak sekali cara lainnya, Perjanjian Lama relevan untuk kehidupan di zaman Perjanjian Baru karena latar belakang historis yang disediakannya.

Yang kedua, Perjanjian Lama juga relevan karena peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama paralel dengan peristiwa-peristiwa dalam iman Kristen kita. Kita semua mengenal peribahasa yang mengatakan “sejarah terus berulang”, dan kita mengerti bahwa ada banyak peristiwa yang sering kali tampak begitu mirip dengan peristiwa lain yang telah terjadi di masa lampau.

Seperti orang percaya Perjanjian Lama, kita hidup di dalam dunia yang diciptakan oleh Allah tetapi sekaligus dunia yang telah jatuh dalam dosa. Umat yang setia dalam Perjanjian Lama menghadapi perlawanan dari orang-orang lain dan dari kuasa-kuasa roh jahat, dan kita menghadapi perlawanan yang sama saat ini. Mereka bergantung pada pertolongan Allah untuk mengatasinya; kita bergantung pada pertolongan-Nya juga. Paralel antara dunia Perjanjian Lama dan dunia kita begitu luas. Pada saat kita memandang melampaui perbedaan-perbedaan yang superfisial, kita dapat melihat bahwa kita hidup dalam kondisi-kondisi yang dalam banyak hal sangat mirip dengan kondisi-kondisi para penulis Perjanjian Lama dan para pendengar mereka.

Ketiga, kita juga menemukan kaitan antara Perjanjian Lama dengan zaman kita dalam fakta bahwa kita berhadapan dengan jenis manusia yang sama.

Manusia Yang Sama

Walaupun ada banyak perbedaan superfisial di antara orang-orang zaman dahulu pada masa Perjanjian Lama dengan orang modern, ada juga kontinuitas yang fundamental yang menghubungkan kita dengan orang-orang yang hidup pada zaman Perjanjian Lama. Setidaknya kita adalah jenis orang yang sama karena tiga hal: semua manusia adalah gambar Allah; kita semua telah jatuh ke dalam dosa; dan manusia terbagi dua, yaitu mereka yang berada dalam perjanjian dengan Allah dan mereka yang tidak.

Pertama, semua manusia, kapan pun atau di mana pun mereka hidup, adalah gambar Allah. Ajaran ini jelas di seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Kejadian 1:27, kita membaca kata-kata ini:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kejadian 1:27).

Terlebih lagi, dalam Kejadian 9:6, kita mendapati bahwa bahkan setelah dosa mencemari umat manusia, manusia tetap adalah gambar Allah. Di sana kita membaca:

Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri (Kejadian 9:6).

Lebih dari itu, Perjanjian Baru juga meneguhkan bahwa semua orang adalah gambar atau rupa Allah. Dalam Yakobus 3:9, kita membaca kata-kata ini:

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (Yakobus 3:9).

Seperti yang Paulus jelaskan dalam 1 Korintus 11:7:

[Laki-laki] ... adalah gambaran dan kemuliaan Allah (1 Korintus 11:7, diterjemahkan dari NIV).

Walaupun kita akan lebih banyak membahas tentang apa artinya menjadi gambar Allah dalam pelajaran berikutnya, untuk saat ini cukup kami katakan bahwa kita memiliki sejumlah karakteristik yang dalam derajat tertentu bersifat umum atau bahkan universal bagi semua manusia. Di masa lampau, gereja-gereja telah memusatkan perhatian pada fakta bahwa manusia itu rasional, bahwa kita memiliki kemampuan linguistik yang khusus, dan bahwa kita adalah makhluk moral atau religius.

Dari perspektif Alkitab ini, kita dapat melihat bahwa kita harus berhati-hati untuk tidak terlalu melebih-lebihkan perbedaan di antara orang-orang di zaman Perjanjian Lama dengan orang modern. Di balik apa yang kelihatan, kita yang hidup pada masa kini tidak terlalu berbeda dengan mereka yang hidup di zaman kuno. Sekalipun kita tidak persis sama dengan mereka, kita dapat berasumsi bahwa kualitas rasional, linguistik, dan moral yang mendominasi kehidupan kita juga ada di dalam diri mereka. Dan karena alasan-alasan ini, kita dapat benar-benar yakin bahwa Perjanjian Lama dapat berhasil diterapkan dalam zaman kita. Orang-orang yang menulisnya dan para penerima yang dituju adalah gambar Allah, persis seperti kita.

Kedua, kita juga sama dengan orang-orang di zaman Perjanjian Lama karena semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Kita semua sudah mengenal perkataan Paulus yang terkenal dalam Roma 3:12:

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak (Roma 3:12).

Sang Rasul menegaskan bahwa semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ini bukan hanya ajaran Perjanjian Baru — Salomo pada intinya mengatakan hal yang sama pada saat penahbisan Bait Suci dalam 1 Raja-Raja 8:46:

Karena tidak ada manusia yang tidak berdosa (1 Raja-Raja 8:46).

Karena kita dan orang-orang Perjanjian Lama memiliki kualitas yang sama sebagai gambar Allah yang telah jatuh dalam dosa, tidak sulit bagi kita untuk mengerti kecenderungan orang-orang Perjanjian Lama untuk berbalik dari Allah kepada dosa. Tidak sulit bagi kita untuk memahami mengapa para penulis Perjanjian Lama sangat berfokus pada dosa dan pencemarannya. Kita terhubung dengan Perjanjian Lama pada level ini karena kita tahu bahwa kita adalah orang-orang berdosa, sama seperti para penerima pertama dari Perjanjian Lama. Dan Perjanjian Lama berfokus pada penebusan orang-orang berdosa, sama seperti Perjanjian Baru. Apa yang Allah katakan kepada orang-orang berdosa pada zaman Perjanjian Lama juga sangat relevan bagi orang-orang berdosa yang hidup pada zaman ini.

Ketiga, sejak kejatuhan umat manusia ke dalam dosa, manusia telah selalu dikelompokkan berdasarkan relasi mereka dengan Allah. Ingatlah bahwa di Gunung Sinai, Allah berbicara tentang hubungan perjanjian-Nya yang istimewa dengan Israel demikian di dalam Keluaran 19:6:

Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Keluaran 19:6).

Dan di dalam 1 Petrus 2:9, Rasul Petrus mengutip nas ini, tetapi menerapkannya kepada jemaat Perjanjian Baru. Katanya:

Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah … (1 Petrus 2:9).

Sekalipun ada perbedaan antara umat Allah dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru, masih ada kaitan yang tetap di antara keduanya. Manusia tetap terbagi berdasarkan hubungan dengan Allah.

Ada banyak cara untuk mendeskripsikan pembagian umat manusia ini. Salah satu cara yang sangat bermanfaat adalah dengan melihat bahwa di seluruh Alkitab, Allah membedakan tiga kelompok: pertama, mereka yang terhilang karena mereka berada di luar perjanjian dengan Allah; kedua, mereka yang berada di dalam perjanjian dengan Allah tetapi masih tersesat, belum diselamatkan dari dosa mereka; dan ketiga, mereka yang berada di dalam perjanjian dengan Allah, yang dibenarkan oleh iman serta diselamatkan secara kekal. Ketiga kelompok manusia ini ada dalam Perjanjian Lama dan juga ada dalam periode Perjanjian Baru sekarang ini. Karena paralel-paralel ini, tepatlah jika kita meyakini bahwa Perjanjian Lama itu relevan bagi kita. Umat manusia di zaman kita terbagi seperti pada masa Perjanjian Lama. Sebagai akibatnya, firman Allah kepada Israel adalah firman-Nya bagi kita.

Demikianlah dalam pembahasan kita tentang penerapan Perjanjian Lama untuk zaman kita, perlu kita ingat bahwa setidaknya ada tiga kaitan utama di antara kita dengan Perjanjian Lama: Kita melayani Allah yang sama, di dalam dunia yang sama, dan sebagai jenis manusia yang sama.

Setelah kita melihat bagaimana Allah yang sama, dunia yang sama, dan jenis manusia yang sama menghubungkan kita dengan Perjanjian Lama, kita juga harus memperhatikan perkembangan-perkembangan yang telah terjadi di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Perkembangan-perkembangan

Kita bisa mendekati topik ini dengan beberapa cara, tetapi kita hanya akan mengikuti pola yang dibentuk oleh ketiga kaitan tadi. Kita akan melihat bagaimana telah terjadi perkembangan periode sejarah, perkembangan kebudayaan, dan perkembangan pribadi.

Perkembangan Periode Sejarah

Pertama-tama, sekalipun kita tahu bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah yang sama yang tidak berubah di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita harus menyadari bahwa Allah mewahyukan diri-Nya dalam periode sejarah atau zaman. Sejarah Alkitab merupakan catatan yang panjang tentang bagaimana Allah mewahyukan diri kepada umat-Nya secara progresif, sedikit demi sedikit, sementara sejarah keselamatan bergerak menuju tujuan akhirnya yang telah ditetapkan oleh Allah. Secara sederhana, Abraham tahu lebih banyak tentang Allah daripada Nuh. Musa mengetahui lebih banyak dibandingkan Abraham; Daud mengetahui lebih banyak daripada Musa; dan Allah telah mewahyukan lebih banyak tentang diri-Nya kepada orang percaya dalam Perjanjian Baru dibandingkan dengan apa yang pernah diwahyukan-Nya sebelumnya. Penulis Surat Ibrani menekankan hal ini dalam Ibrani 1:1-2:

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya ... (Ibrani 1:1-2).

Sayangnya, kita hidup pada masa ketika ada banyak kebingungan tentang hal-hal apa saja yang berkaitan dengan periode sejarah yang harus kita pertimbangkan saat kita menerapkan Perjanjian Lama dalam kehidupan kita saat ini. Banyak orang Kristen dengan benar percaya bahwa Perjanjian Lama berlaku untuk kita, tetapi mereka memiliki cara yang berbeda-beda untuk menerapkan pesan Perjanjian Lama bagi zaman kita. Sekalipun ada banyak variasi tentang hal ini, ada baiknya kita memikirkan tiga kecenderungan yang utama:

Di ujung spektrum yang satu, ada beberapa pendapat yang ekstrem yang mendukung pandangan yang tersegmentasi mengenai iman alkitabiah. Orang-orang Kristen ini menekankan perbedaan di antara berbagai periode sejarah atau zaman di dalam Alkitab. Bahkan, mereka begitu berfokus pada perbedaan-perbedaan di antara era Perjanjian Lama dan zaman kita ini, sehingga mereka cenderung menerapkan bagi orang percaya modern hanya hal-hal dalam Perjanjian Lama yang diulangi di dalam Perjanjian Baru. Selama Perjanjian Baru tidak memberikan komentar mengenai suatu ajaran atau praktik dari Perjanjian Lama, orang-orang Kristen ini berasumsi bahwa Perjanjian Lama tidak berlaku.

Di ujung spektrum yang satunya, ada beberapa posisi yang ekstrem, yang mendukung pandangan yang menyamaratakan iman alkitabiah. Orang-orang Kristen ini berfokus pada hal-hal yang tetap sama di antara berbagai periode sejarah dalam Alkitab. Bahkan, mereka menganggap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru begitu menyatu, sehingga selama Perjanjian Baru tidak mengomentari suatu ajaran atau praktik dalam Perjanjian Lama, mereka berasumsi bahwa Perjanjian Lama harus diikuti secermat mungkin.

Dalam pelajaran-pelajaran ini, kita akan menghindari kedua ekstrem di atas dengan mengikuti pendekatan terhadap periode-periode sejarah dalam Kitab Suci yang melihat sejarah Alkitab sebagai suatu kesatuan tetapi sekaligus terus berkembang. Perspektif kita berusaha untuk memberi perhatian yang seimbang kepada hal-hal yang tetap sama maupun hal-hal yang telah berubah di sepanjang sejarah Alkitab. Kita akan berasumsi bahwa seluruh Perjanjian Lama itu relevan bagi kita, tetapi juga bahwa setiap dimensi di dalam Perjanjian Lama telah berkembang. Kita tidak akan memperlakukan bagian mana pun dalam Perjanjian Lama sebagai sesuatu yang tidak dapat diterapkan atau tidak relevan untuk zaman kita, tetapi kita juga tidak akan menerapkan ajaran Perjanjian Lama tanpa mempertimbangkan apa yang Allah telah wahyukan di dalam Perjanjian Baru. Sebaliknya, semua ajaran Perjanjian Lama harus mengalami penyesuaian periode sejarah dengan melewati saringan dari Perjanjian Baru. Singkatnya, model perkembangan ini mengajarkan kepada kita bahwa seluruh Perjanjian Lama itu relevan dan berotoritas terhadap kita, tetapi juga bahwa seluruh Perjanjian Lama harus diterapkan berdasarkan Perjanjian Baru.

Model perkembangan ini mengikuti analogi yang diterapkan oleh rasul Paulus untuk sejarah keselamatan. Dalam Galatia 3:24, ia berbicara tentang tahapan-tahapan sejarah Alkitab sebagai tahapan-tahapan di dalam perkembangan seorang anak:

… hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang (Galatia 3:24).

Iman Perjanjian Lama adalah seperti perintah-perintah yang diberikan kepada seorang anak; iman Perjanjian Baru adalah seperti perintah-perintah yang diberikan kepada ahli waris yang telah dewasa.

Pikirkan analogi yang Paulus gunakan ini untuk melukiskan perkembangan iman alkitabiah. Biasanya, kita memberikan serangkaian perintah yang sesuai untuk anak-anak kecil: “Jangan pergi ke jalan raya! Jangan sentuh kompor itu!” Namun, ketika anak-anak itu telah dewasa, kita tidak lagi menyuruh mereka untuk menghindari jalan raya atau kompor. Lagipula, mereka sudah dewasa. Namun, kita berharap bahwa sebagai orang dewasa, mereka tetap mengingat hikmat yang ingin diajarkan oleh peraturan-peraturan masa kecil. Kita berharap orang dewasa mengingat bahwa jalan raya dan kompor itu berbahaya dan karena itu mereka harus berhati-hati. Jika orang dewasa masih terikat pada aturan yang sama dengan cara yang sama seperti anak berumur dua tahun, maka hal itu adalah kebodohan. Namun, adalah sama bodohnya jika orang dewasa melupakan hikmat dari peraturan untuk seorang anak berumur dua tahun.

Seperti yang kita akan lihat dalam pelajaran-pelajaran ini, ada banyak hal yang juga berlaku untuk iman alkitabiah. Dalam banyak hal, Perjanjian Lama mirip dengan aturan yang diberikan kepada seorang anak kecil. Perjanjian Lama dirancang sesuai dengan kondisi rohani dari bangsa Israel di zaman Perjanjian Lama. Sebagai orang percaya di zaman Perjanjian Baru, kita dapat mengikuti dua arah yang bodoh. Yang pertama, kita dapat mencoba untuk kembali ke zaman Perjanjian Lama dan meniru iman Perjanjian Lama seakan-akan kita masih hidup di zaman Perjanjian Lama itu sendiri. Namun, ini berarti menolak Kristus dan karya keselamatan-Nya yang agung. Yang kedua, kita mungkin tergoda untuk mengatakan bahwa Perjanjian Lama tidak ada kaitannya lagi dengan kita karena kita sudah menjadi orang percaya Perjanjian Baru. Akan tetapi, hal ini juga keliru. Ada banyak hal yang dapat diajarkan oleh Perjanjian Lama kepada kita tentang iman Kristen kita. Model perkembangan dari iman alkitabiah mengajar kita untuk menghargai dan tunduk kepada otoritas Perjanjian Lama, tetapi kita harus melakukannya sebagai orang-orang yang yang hidup pada waktu di mana zaman akhir telah tiba.

Perkembangan Kebudayaan

Yang kedua, untuk memahami Perjanjian Lama di zaman kita, kita harus mempertimbangkan perkembangan kebudayaan. Jika kita berharap untuk menghubungkan kehidupan kita dengan teks Kitab Suci Perjanjian Lama, kita harus memperhitungkan perbedaan-perbedaan di antara kebudayaan yang direpresentasikan dalam Perjanjian Lama dengan kebudayaan dari dunia kita sendiri.

Untuk mengakui perkembangan-perkembangan kebudayaan, di satu sisi kita harus berusaha melihat persamaan antara diri kita dengan Perjanjian Lama. Pola-pola kebudayaan apakah yang kita hadapi yang paralel dengan pengalaman Abraham? Dalam hal apakah kebudayaan kita mirip dengan Daud? Di sisi lain, kita harus berusaha melihat perbedaan-perbedaan kebudayaan yang ada. Bagaimanakah kebudayaan manusia telah berubah secara signifikan dari masyarakat kuno dalam Perjanjian Lama? Adat-istiadat dan praktik-praktik apakah yang berbeda? Kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dan membuat penyesuaian kebudayaan yang tepat terhadap pesan dari Perjanjian Lama, ketika kita menerapkan Perjanjian Lama dalam kehidupan masa kini.

Perkembangan Pribadi

Yang ketiga, untuk menerapkan Perjanjian Lama di zaman kita, kita harus melakukan penyesuaian pribadi. Kita harus mempertimbangkan orang-orang yang ada di dalam Perjanjian Lama dan orang-orang yang ada di zaman kita. Ada cukup banyak persamaan di antara orang-orang dalam Perjanjian Lama dan orang-orang yang hidup dalam dunia kita saat ini. Namun, kita juga harus mengakui bahwa ada banyak perbedaan di antara manusia modern dengan manusia kuno. Jika kita bermaksud menerapkan teks kuno Perjanjian Lama secara tepat, kita harus memperhitungkan perbedaan-perbedaan pribadi ini.

Misalnya, kita semua perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Bagaimanakah perbandingan antara kehidupan pribadi kita dengan kehidupan orang-orang yang kita lihat dalam Perjanjian Lama? Peran apakah yang kita miliki dalam masyarakat? Bagaimanakah kondisi kerohanian kita? Bagaimanakah kita melayani Tuhan jika dibandingkan dengan tokoh Perjanjian Lama ini atau tokoh Perjanjian Lama itu? Bagaimanakah pikiran, tindakan, dan perasaan kita dibandingkan dengan apa yang kita lihat di dalam Perjanjian Lama? Dengan memperhitungkan perbedaan di antara orang-orang Perjanjian Lama dengan orang modern, kita dapat lebih memahami bagaimana kita harus menerapkan Perjanjian Lama di zaman kita.

Di dalam pelajaran-pelajaran selanjutnya,kita akan berulang kali melihat bahwa kita harus siap beralih dari Perjanjian Lama ke zaman kita dengan memperhitungkan perkembangan periode sejarah, kebudayaan, dan pribadi dari tema-tema spesifik dalam Perjanjian Lama. Jika kita tidak secara khusus memperhatikan hal-hal ini, kita akan gagal untuk mempelajari Perjanjian Lama dengan cara yang diperkenan oleh Allah.

`

KESIMPULAN

Dalam pelajaran ini, kita telah mengupas mengapa penting bagi orang Kristen untuk mempelajari Perjanjian Lama. Kita telah mengakui adanya jarak di antara diri kita dengan kitab kuno ini, tetapi kita juga telah melihat bahwa Perjanjian Baru dengan tegas menyatakan bahwa Perjanjian Lama tetap relevan bagi kita. Perjanjian Lama tetap memiliki otoritas untuk membimbing kehidupan Kristen kita. Dan akhirnya, kita telah melihat proses-proses yang berpengaruh di dalam penerapan Perjanjian Lama ke dalam zaman kita. Kita harus selalu memperhitungkan bagaimana tema-tema Perjanjian Lama telah berkembang seiring dengan waktu, dan bagaimana tema-tema ini harus digunakan di dalam dunia modern.

Kita baru menyentuh beberapa isu pendahuluan yang luar biasa penting dalam pelajaran ini. Ketika kita melanjutkan survei tentang Kerajaan, Perjanjian-Perjanjian dan Kanon Perjanjian Lama ini, kita harus terus mengingat hal-hal ini. Dengan demikian, kita akan mendapati bahwa Perjanjian Lama merupakan sumber kekuatan rohani yang luar biasa kaya, yang telah Allah sediakan bagi umat-Nya di setiap zaman.