<link rel="stylesheet" href="https://cdn.plyr.io/3.7.8/plyr.css" />
Kembali ke KatalogHGPDia Memberikan Kita Para Nabi
Dia Memberikan Kita Para Nabi ·ManuscriptDiterjemahkan dari Inggris

HGP-05 Analisis Historis Nubuatan

Baca teks lengkap

Membuka naskah…

Untuk video, pedoman studi dan bahan-bahan lainnya, silakan kunjungi Third Millennium Ministries di thirdmill.org

Ia Memberikan Para Nabi Kepada Kita

Pelajaran Lima

Analisis Historis

Terhadap Nubuat

© 2012 by Third Millennium Ministries

Semua Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak terbitan ini dalam bentuk apa pun atau dengan cara apa pun untuk diperjualbelikan, kecuali dalam bentuk kutipan-kutipan singkat untuk digunakan sebagai tinjauan, komentar, atau pendidikan akademis, tanpa izin tertulis dari penerbit: Third Millennium Ministries, Inc., P.O. Box 300769, Fern Park, Florida 32730-0769.

Kecuali disebutkan, semua kutipan Alkitab diambil dari ALKITAB BAHASA INDONESIA TERJEMAHAN BARU, © 1974 LEMBAGA ALKITAB INDONESIA

Tentang Third Millennium Ministries

Didirikan pada tahun 1997, Third Millennium Ministries adalah sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menyediakan Pendidikan Alkitab. Bagi Dunia. Secara cuma-cuma. Dalam menyikapi kebutuhan global yang semakin berkembang akan pelatihan kepemimpinan Kristen yang benar dan berdasarkan Alkitab, kami membuat kurikulum seminari multimedia yang mudah digunakan dan didukung oleh donasi dalam lima bahasa (Inggris, Spanyol, Rusia, Mandarin, Arab) dan membagikannya secara cuma-cuma kepada mereka yang paling memerlukannya, terutama bagi pemimpin-pemimpin Kristen yang tidak memiliki akses untuk atau mengalami kendala finansial untuk dapat mengikuti pendidikan tradisional. Semua pelajaran ditulis, dirancang dan diproduksi oleh organisasi kami sendiri, serta memiliki kemiripan dalam gaya dan kualitas dengan pelajaran-pelajaran yang ada di History Channel©. Metode pelatihan yang tidak ada bandingannya dan hemat-biaya untuk para pemimpin Kristen ini telah terbukti sangat efektif di seluruh dunia. Kami telah memenangkan Telly Awards untuk produksi video yang sangat baik dalam Pendidikan dan Penggunaan Animasi, dan kurikulum kami ini baru-baru ini telah digunakan di lebih dari 150 negara. Materi Third Millennium ada dalam bentuk DVD, cetakan, streaming internet, pemancar televisi satelit, siaran radio serta televisi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelayanan kami dan untuk mengetahui bagaimana Anda bisa mengambil bagian di dalamnya, silakan kunjungi http://thirdmill.org.

Daftar Isi

  1. Introduksi 1
  2. Periode Monarki Awal 1
    1. Peristiwa-Peristiwa Besar 2
      1. Kerajaan yang Bersatu 2
      2. Kerajaan yang Terpecah 2
    2. Pelayanan Kenabian 3
      1. Prinsip-Prinsip Ideal dari Perjanjian 3
      2. Kerajaan yang Terpecah 3
  3. Penghakiman Asyur 4
    1. Peristiwa-Peristiwa Besar 4
      1. Koalisi Aram-Israel 4
      2. Kejatuhan Samaria 5
      3. Invasi Sanherib 5
    2. Pelayanan Kenabian 5
      1. Yunus 6
      2. Hosea 6
      3. Amos 6
      4. Mikha 7
      5. Nahum 7
      6. Yesaya 8
  4. Penghakiman Babel 9
    1. Peristiwa-Peristiwa Besar 9
      1. Serangan Pertama 9
      2. Serangan Kedua 10
      3. Serangan Ketiga 10
    2. Pelayanan Kenabian 10
      1. Yeremia 10
      2. Zefanya 11
      3. Yoel 11
      4. Obaja 12
      5. Habakuk 12
      6. Yehezkiel 13
      7. Daniel 13
  5. Periode Pemulihan 14
    1. Peristiwa-Peristiwa Besar 14
      1. Kepulangan Orang Israel ke Tanah Perjanjian 15
      2. Pembangunan Kembali Bait Suci 15
      3. Kemurtadan yang Meluas 15
    2. Pelayanan Kenabian 16
      1. Hagai 16
      2. Zakharia 16
      3. Maleakhi 17
  6. Kesimpulan 17

INTRODUKSI

Saya memiliki seorang teman yang baru-baru ini bercerita kepada saya. Ia baru menikah beberapa tahun yang lalu, dan istrinya sedang membersihkan salah satu lacinya dan menemukan sepucuk surat dari mantan pacarnya. Awalnya istrinya sangat kecewa, karena ia menyangka bahwa surat itu baru ditulis, tetapi teman saya dapat membuktikan bahwa surat itu ditulis bertahun-tahun yang lalu melalui amplopnya dan cap tanggal di amplopnya. Teman saya memandang saya dan berkata, “Rich, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya saya tidak dapat membuktikan kapan surat itu ditulis.” Sayangnya, sering kali orang Kristen salah memahami nubuat Perjanjian Lama, karena mereka tidak mempedulikan kapan para nabi itu berbicara atau kapan para nabi menuliskan kitab-kitab mereka. Jika kita hendak mempelajari kitab nubuat secara bertanggung jawab, kita harus siap untuk memahami kapan dan pada zaman apa mereka melayani.

Pelajaran ini berjudul “Analisis Historis Terhadap Nubuat”, dan kita akan meneliti bagaimana sejarah Perjanjian Lama menyediakan konteks yang penting untuk memahami nubuat Perjanjian Lama dengan benar. Analisis historis kita ini akan dibagi ke dalam empat periode besar dari sejarah kenabian: pertama, periode monarki awal; kedua, periode penghakiman Asyur; ketiga, periode penghakiman Babel; dan akhirnya, kita akan meninjau periode pemulihan. Mari kita bahas dahulu periode monarki awal.

PERIODE MONARKI AWAL

Sebelumnya kita telah mempelajari bahwa nubuat menjadi hal yang penting di Israel ketika kedudukan sebagai raja juga menjadi penting. Karena itu, akan membantu jika kita memulai analisis historis kita terhadap nubuat dengan memperhatikan masa monarki awal—hari-hari ketika Israel pertama kali memiliki raja. Dari zaman Abraham, yang hidup pada sekitar tahun 2000 sM sampai zaman Saul, Israel tidak memiliki seorang raja. Namun kerajaan Daud baru berdiri pada sekitar tahun 1000 sM, dan kerajaannya tetap bertahan selama beberapa generasi. Ketika kita menyelidiki periode ini dalam sejarah Israel, kita akan mengajukan dua pertanyaan penting: peristiwa-peristiwa besar apa sajakah yang terjadi di dalam periode itu dan bagaimanakah peristiwa-peristiwa itu membentuk pelayanan kenabian?

Peristiwa-peristiwa Besar

Pertama-tama, marilah kita memperhatikan dua peristiwa besar yang terjadi selama periode monarki awal. Pertama-tama, kita bisa berbicara tentang kerajaan yang bersatu.

Kerajaan yang Bersatu

Pada sekitar tahun 1000 sM, Daud menduduki takhta di Yerusalem. Ia mempersatukan semua suku, menetapkan batas-batas wilayah yang relatif aman untuk kerajaannya, dan membawa tabut Allah ke Yerusalem sebagai persiapan bagi anaknya yang akan mendirikan bait suci bagi Allah. Salomo, anak Daud, mengikuti jejak ayahnya. Ia memperluas wilayah Israel dan menjaga persatuan dari suku-suku yang ada. Salomo juga membangun bait suci yang megah dan mengabdikannya untuk ibadah kepada Yahweh. Kitab Samuel, kitab Raja-Raja, dan kitab Tawarikh menegaskan bahwa Daud dan Salomo bukanlah raja-raja yang sempurna. Namun tetap saja, Alkitab memandang periode itu sebagai masa yang ideal, ketika umat Allah menerima banyak berkat.

Kerajaan yang Terpecah

Betapapun baiknya kondisi di tahun-tahun awal ini, kita harus mengingat peristiwa besar lainnya, yaitu terpecahnya kerajaan itu. Sayangnya, karena Salomo dan anaknya Rehabeam tidak memperlakukan suku-suku di utara dengan penghormatan yang selayaknya mereka terima, maka suku-suku di utara memisahkan diri dan membentuk bangsa mereka sendiri pada sekitar tahun 930 sM. Kita mengetahui tentang peristiwa ini di dalam 1 Raja-Raja 12 dan 2 Tawarikh 11. Ketika Rehabeam tidak mau memperlakukan suku-suku di utara secara adil, mereka memisahkan diri dan membentuk bangsa mereka sendiri. Yerobeam I menjadi raja dari suku-suku di utara, dan mendirikan ibu kotanya di Samaria beserta pusat ibadah di Dan serta di Betel. Yerobeam melangkah terlalu jauh dalam pemberontakannya melawan kerajaan selatan. Ia menegakkan berhala-berhala di pusat ibadahnya di Dan serta di Betel, dan dengan melakukan hal ini, kerajaan utara menjadi sangat bobrok. Bangsa itu berbalik dari kesetiaan mereka kepada Yahweh dan menolak untuk tunduk kepada berbagai tanggung jawab perjanjian mereka. Yehuda juga mengalami jatuh bangunnya selama periode ini, tetapi pada umumnya mereka tetap jauh lebih setia dibandingkan dengan Israel Utara.

Jadi, kita telah melihat dua peristiwa besar dalam periode monarki awal: pertama, kerajaan yang bersatu di bawah pemerintahan Daud dan Salomo, ketika umat itu diberkati secara luar biasa; dan terpecahnya kerajaan itu di masa pemerintahan Rehabeam.

Setelah kita melihat kedua peristiwa besar yang berlangsung selama periode monarki awal, kita harus menanyakan bagaimanakah kedua peristiwa ini membentuk pelayanan para nabi.

Pelayanan Kenabian

Ada enam belas nabi yang berbeda, yang pelayanannya dirangkumkan di dalam kitab nabi-nabi besar dan kitab nabi-nabi kecil di dalam Perjanjian Lama. Kitab Samuel, Raja-Raja, dan Tawarikh menegaskan bahwa periode awal kerajaan itu penuh dengan aktivitas kenabian, tetapi tidak ada satu pun kitab nubuat yang berasal dari periode ini. Kita hanya dapat menjelaskan bahwa periode monarki awal memberikan latar belakang bagi nabi-nabi yang sedang kita pelajari. Kita dapat melihat latar belakang ini setidaknya dengan dua cara.

Prinsip-Prinsip Ideal dari Perjanjian

Di satu sisi, nabi-nabi yang menulis belakangan itu melihat kembali ke masa kerajaan yang bersatu sebagai masa terbentuknya prinsip-prinsip ideal yang penting dari perjanjian kerajaan. Mereka mendasarkan semua pengharapan mereka bagi umat Allah kepada perjanjian yang Allah adakan dengan Daud, dan yang diteguhkan-Nya dengan Salomo. Mereka menantikan saat ketika Israel akan dipersatukan kembali dengan Yehuda, seperti pada masa pemerintahan Daud dan Salomo. Mereka menantikan masa ketika takhta Daud akan diteguhkan kembali dan batas-batas dari negeri itu akan diperluas sekali lagi. Jadi dalam pengertian ini, kerajaan yang bersatu tersebut menyediakan latar belakang bagi para nabi yang menulis dalam Perjanjian Lama.

Kerajaan yang Terpecah

Di sisi lain, terpecahnya kerajaan ini juga memberikan suatu latar belakang bagi fakta bahwa nabi-nabi yang menulis, melayani dua bangsa yang berbeda. Bangsa-bangsa ini memiliki sejarah yang relatif terpisah. Ada nabi-nabi yang melayani Yahweh di kerajaan utara, yang menyampaikan ancaman tentang penghakiman perjanjian dan meyakinkan umat itu tentang saat pemulihan dan berkat yang besar. Fokus mereka adalah pada Samaria, ibu kota dari suku-suku di utara. Nabi-nabi lain melayani Yahweh di Yehuda dan mereka memperingatkan tentang penghakiman dan menawarkan berkat bagi umat Allah di selatan, tetapi mereka berfokus pada Yerusalem serta suku-suku Yehuda.

Sekalipun tidak ada nabi yang menulis yang berasal dari periode monarki awal, kita menemukan bahwa periode ini membentuk suatu latar belakang yang penting bagi pelayanan semua nabi. Periode monarki awal menegakkan prinsip-prinsip ideal dari perjanjian serta menegaskan kenyataan adanya kerajaan utara dan selatan.

Sejauh ini, kita telah melihat latar belakang dari periode monarki awal. Kini kita harus beralih kepada periode besar kedua dari sejarah kenabian, yaitu periode penghakiman Asyur.

PENGHAKIMAN ASYUR

Seperti yang telah kita lihat dalam pelajaran sebelumnya, umat perjanjian mempunyai tanggung jawab untuk setia dan taat kepada Tuhan, dan ketika mereka secara terang-terangan melanggar perjanjian itu, mereka mendapati diri mereka di dalam situasi di mana Allah akan mengirimkan penghakiman di dalam peperangan. Pertama kali Allah mengirimkan perang yang besar terhadap umat Allah adalah pada periode penghakiman Asyur. Penghakiman ilahi berupa kekalahan di dalam peperangan menimpa umat Allah melalui kerajaan Asyur, khususnya selama tahun 734 hingga 701 sM. Selama abad ke-8 dan ke-7 sM, kerajaan Asyur berkembang semakin kuat dan menaklukkan banyak bangsa. Di puncak kejayaannya, kerajaan Asyur membentang dari Turki modern hingga ke Teluk Persia, dan bahkan jauh ke selatan sampai ke Mesir. Israel dan Yehuda tidak bisa menghindari interaksi dengan kerajaan yang sangat besar dan agresif ini. Untuk menelusuri masa penghakiman Asyur ini, kita kembali akan memperhatikan dua hal utama: peristiwa-peristiwa besar apakah yang terjadi pada masa ini, dan bagaimanakah kejadian-kejadian ini mempengaruhi pelayanan para nabi selama abad-abad ini?

Peristiwa-Peristiwa Besar

Peristiwa-peristiwa besar apakah yang terjadi selama abad-abad kekuasaan Asyur, yang berpengaruh pada tulisan-tulisan kenabian dalam Perjanjian Lama? Minimal terjadi tiga peristiwa besar dalam sejarah, yang penting untuk kita pelajari: pertama, koalisi Aram (Siria) dan Israel; kedua, kejatuhan Samaria; dan ketiga, invasi Sanherib.

Koalisi Aram-Israel

Koalisi Aram-Israel melibatkan konflik di antara tiga bangsa kecil di bawah kekuasaan Asyur pada masa itu: Aram, Israel Utara, dan Yehuda. Kita dapat membaca tentang peristiwa-peristiwa ini dalam beberapa bagian Perjanjian Lama, tetapi salah satu nas yang sangat menarik adalah Yesaya 7. Pada sekitar tahun 734 sM, Aram dan Israel Utara sudah lelah membayar upeti kepada kerajaan Asyur, sehingga mereka memutuskan untuk membentuk suatu koalisi untuk melawan orang Asyur, karena orang Asyur sedang mengalami masalah di wilayah-wilayah lain dari kerajaannya. Selain membangun koalisi mereka sendiri, Israel dan Aram berusaha untuk memaksa Yehuda untuk bergabung dengan mereka. Namun Ahas, raja Yehuda, menolak bergabung dengan mereka dan malah meminta bantuan dari Asyur. Peristiwa-peristiwa ini menimbulkan banyak akibat bagi umat Allah, tetapi kita setidaknya harus menyadari salah satu konsekuensi besarnya. Baik Israel bagian utara maupun selatan sedang menuju kepada konflik dengan Asyur. Israel Utara telah memberontak terhadap Asyur, sehingga para raja Asyur datang, menyerang, dan menghancurkan Israel Utara. Yehuda bersekutu dengan Asyur selama beberapa waktu sehingga harus membayar upeti dan pajak yang besar kepada kerajaan Asyur. Namun akhirnya, Yehuda pun memberontak terhadap Asyur, dan penghakiman juga akan menimpa Yehuda di bagian selatan.

Kejatuhan Samaria

Peristiwa besar kedua dalam periode penghakiman Asyur adalah kejatuhan Samaria. Samaria adalah ibu kota Israel Utara dan menjadi objek dari balas dendam Asyur terhadap pemberontakan dari koalisi Aram-Israel. Kita membaca tentang peristiwa ini di dalam 2 Raja-Raja 17. Tentara Asyur yang besar itu maju untuk memerangi Israel Utara dan menghancurkan Samaria, lalu Asyur mengirim banyak orang Israel Utara ke pembuangan. Peristiwa ini menandai masa yang baru bagi umat Allah, tetapi klimaks dari penghakiman perjanjian dalam bentuk pembuangan dengan skala besar ini benar-benar terjadi untuk pertama kalinya dengan hancurnya Israel Utara di tangan Asyur.

Invasi Sanherib

Peristiwa besar ketiga dalam penghakiman Asyur terjadi di dalam invasi Sanherib terhadap Yehuda. Yehuda terlepas dari murka Asyur untuk sementara karena mereka tunduk kepada Asyur agar mereka dilindungi dari kerajaan utara. Namun kemudian, Yehuda pun akhirnya memberontak terhadap Asyur, dan menyulut kemarahan dari kerajaan besar ini. Beberapa serangan dilancarkan terhadap Yehuda, tetapi yang terparah terjadi pada sekitar tahun 701 sM, yaitu invasi Sanherib. Kita dapat membaca tentang peristiwa ini di dalam 2 Raja-Raja 18 dan 19. Asyur menghancurkan banyak kota di Yehuda dan maju sampai ke Yerusalem. Bahkan kelihatannya tidak ada harapan lagi sampai Hizkia, raja Yehuda, berbalik dan memohon pertolongan Yahweh, dan secara ajaib diselamatkan. Yehuda tetap menjadi negeri bawahan Asyur, tetapi Yehuda terhindar dari kehancuran total di zaman Hizkia dan pada saat penyerbuan Sanherib.

Jadi kita bisa melihat bahwa ada tiga peristiwa besar selama penghakiman Asyur: pertama, koalisi Aram-Israel pada tahun 734 sM; kedua, kejatuhan Samaria pada tahun 722 sM; dan akhirnya, invasi Sanherib pada tahun 701 sM.

Setelah kita membahas beberapa peristiwa besar yang terjadi selama penghakiman Asyur, kita harus meneliti bagaimana ketiga peristiwa ini mempengaruhi pelayanan para nabi.

Pelayanan Kenabian

Penghakiman Asyur memberikan pengaruh yang besar bagi pelayanan para nabi. Dari 16 kitab yang kita miliki di dalam Perjanjian Lama, enam di antaranya melaporkan pelayanan para utusan Yahweh selama periode ini: Yunus, Hosea, Amos, Mikha, Nahum, dan Yesaya. Semua nabi tersebut melayani pada zaman penghakiman Asyur. Marilah kita merangkum secara singkat apa yang dikatakan oleh para nabi tentang penghakiman Asyur.

Yunus

Pertama-tama, kita perlu menyebut nabi Yunus. Menurut 2 Raja-Raja 14:25, Allah memanggil Yunus untuk bernubuat pada masa pemerintahan Yerobeam II, raja Israel Utara, pada sekitar tahun 793-753 sM. Tempat pelayanan Yunus ini unik di antara nabi-nabi lain, karena Allah memanggilnya untuk pergi ke Niniwe, ibu kota Asyur. Ia pergi ke ibu kota Asyur dan mengkhotbahkan firman Yahweh, dan inti beritanya sederhana, seperti yang kita baca di dalam Yunus 3:4:

“Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yunus 3:4).

Yunus sangat menyesal karena kota Niniwe bertobat ketika mereka mendengar kata-kata dari Yahweh ini, dan Allah tidak mendatangkan bencana yang disebutkan dalam ancaman-Nya kepada kota itu. Pelayanan Yunus menandai belas kasihan Allah, yang menjangkau bahkan kepada suatu kerajaan yang sejahat Asyur.

Hosea

Nabi kedua yang melayani di masa penghakiman Asyur adalah Hosea. Hosea 1:1 memberi tahu kita bahwa ia melayani pada masa Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia, para raja Yehuda. Tahun terakhir pemerintahan Uzia adalah pada sekitar tahun 740 sM, dan tahun pertama pemerintahan Hizkia adalah pada sekitar tahun 716 sM. Jarak waktu ini membentuk suatu periode yang panjang bagi pelayanan nabi Hosea. Ia terutama melayani di Israel Utara dari sekitar tahun 750 sM, setidaknya sampai kejatuhan Samaria di tahun 722 sM. Pada waktu itu, Hosea mungkin bermigrasi ke selatan. Jadi kita bisa melihat bahwa Hosea bernubuat di masa kemakmuran sebelum koalisi Aram-Israel, dan ia juga terus bernubuat sampai waktu kejatuhan Samaria.

Fokus dari nubuat-nubuat Hosea menunjukkan bahwa ia melayani di Israel Utara. Sebagian besar nubuatnya berisi peringatan-peringatan terhadap kecemaran dan kejahatan di Utara. Inti pemberitaan Hosea adalah kerajaan utara sudah begitu dicemari oleh dosa sehingga Allah akan menghakimi mereka dengan mengirimkan Asyur untuk menghancurkan Israel dan Samaria. Tentu saja, nubuat ini digenapi dengan kejatuhan Samaria. Walaupun begitu, Hosea juga menawarkan pengharapan. Ia berkata bahwa suatu hari kelak, berkat perjanjian berupa pemulihan akan datang, bahkan setelah pembuangan.

Amos

Nabi ketiga yang berfokus pada penghakiman Asyur adalah Amos. Amos 1:1 memberi tahu kita bahwa Amos melayani ketika Uzia menjadi raja Yehuda dan Yerobeam menjadi raja Israel. Ayat ini memberikan kepada kita suatu jarak waktu bagi pelayanan Amos dari sekitar tahun 760 hingga 750 sM. Amos melayani sebelum terjadinya koalisi Aram-Israel di tahun 734 sM. Ia melayani ketika Israel Utara mengalami kemakmuran dan bersenang-senang di bawah pemerintahan Yerobeam II. Seperti Hosea, Amos melayani di Israel Utara, dan berita utamanya adalah ia memperingatkan kepada angkatan di zamannya bahwa penghakiman Asyur akan tiba, bahwa Samaria akan jatuh, dan bahwa pembuangan akan terjadi. Seperti yang dikatakan Amos kepada orang Israel dalam Amos 5:27:

“... dan Aku akan membawa kamu ke dalam pembuangan jauh ke seberang Damsyik,” firman TUHAN, yang namanya Allah semesta alam (Amos 5:27).

Di pasal terakhir kitabnya, Amos mengulangi kembali pengharapan bahwa pembuangan bukanlah akhir dari Israel. Akan ada pemulihan, berkat perjanjian berupa pemulihan setelah pembuangan yang dijanjikan oleh Musa sendiri juga diteguhkan oleh Amos.

Mikha

Nabi keempat yang berinteraksi dengan penghakiman Asyur adalah Mikha. Mikha 1:1 mengatakan bahwa ia melayani pada masa pemerintahan Yotam, Ahas, dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dalam kaitannya dengan Samaria dan Yerusalem. Mikha melayani sebagai nabi Allah setidaknya dari tahun 735 sM, tahun terakhir pemerintahan Yotam, hingga 701 sM, masa invasi Sanherib. Tidak seperti Hosea dan Amos, Mikha melayani di Yehuda, khususnya di sekitar Yerusalem. Secara sederhana, Mikha memberitakan bahwa Allah akan menghukum Samaria maupun Yerusalem melalui tangan Asyur. Ia tidak dapat terlalu berharap bahwa Samaria akan luput dari kehancuran, dan ia juga memperingatkan bahwa Yerusalem akan dihancurkan. Selama invasi Sanherib, Mikha melawan nabi-nabi palsu yang mengatakan bahwa Yerusalem tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh musuh. Ia berargumen bahwa Yerusalem akan dihancurkan apabila pertobatan tidak terjadi. Sekalipun demikian, Mikha menyampaikan pengharapan kepada Israel dan Yehuda bahwa sekalipun pembuangan harus terjadi, suatu hari kelak Allah akan membalas perbuatan musuh-musuh mereka dan Ia akan membebaskan umat-Nya dari penindasan Asyur dan akan mengangkat seorang raja agung yang akan menyatukan kembali umat itu dan memulihkan berkat-berkat perjanjian mereka di tanah itu.

Nahum

Nabi kelima yang melayani pada masa penghakiman Asyur adalah Nahum. Masa pelayanan Nahum tidak diberitahukan secara eksplisit di dalam kitabnya, tetapi dapat disimpulkan dari isi kitabnya. Pelayanannya berlangsung antara tahun 663-612 sM. Dua ayat di dalam kitabnya memberikan jarak waktu yang mungkin. Di dalam Nahum 3:8, kita menemukan bahwa kota Mesir, Tebes telah ditaklukkan oleh Asyur, dan peristiwa ini terjadi pada tahun 663 sM. Namun sang nabi juga menubuatkan tentang kehancuran Niniwe, ibu kota Asyur, dan ia berbicara tentang hal itu sebagai sesuatu yang akan terjadi di masa depan di dalam 3:7. Kehancuran Niniwe terjadi pada tahun 612 sM, sehingga kita tahu bahwa pelayanannya berlangsung sebelum peristiwa besar itu.

Kita membaca di dalam 1:15 bahwa Nahum berbicara kepada Yehuda, sehingga kita bisa yakin bahwa ia memang melayani di Yehuda, tetapi Nahum tidak memusatkan perhatiannya pada Yehuda, tetapi pada Asyur. Baik Israel maupun Yehuda sudah sangat menderita di tangan Asyur pada saat itu, dan di tengah-tengah penderitaan itulah, Nahum menyerukan satu berita utama: Allah akan menghancurkan Asyur. Ia meyakinkan Yehuda bahwa Allah akan menghukum Asyur dengan menghancurkan Niniwe, ibu kotanya. Seperti yang kita baca di dalam 3:5-7, Yahweh mengucapkan kata-kata ini terhadap Niniwe:

... Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman TUHAN semesta alam; … akan menghina engkau dan membuat engkau menjadi tontonan. Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata: “Niniwe sudah rusak!” (Nahum 3:5-7).

Yesaya

Nabi keenam yang berfokus pada penghakiman Asyur adalah Yesaya. Yesaya 1:1 menyebutkan bahwa Yesaya melayani pada masa pemerintahan Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia, raja-raja Yehuda. Daftar raja-raja ini memberi tahu kita bahwa Yesaya melayani dari sekitar tahun 740 sM setidaknya sampai beberapa saat setelah invasi Sanherib pada tahun 701 sM. Kita bisa melihat bahwa Yesaya melayani di tengah masa koalisi Aram-Israel, kejatuhan Samaria, dan invasi Sanherib. Isi kitab Yesaya mengungkapkan bahwa ia melayani di Yehuda, khususnya di Yerusalem. Yesaya berinteraksi dengan Yehuda dengan banyak cara selama periode penghakiman Asyur. Ia mengajak mereka untuk tetap setia dan percaya kepada Yahweh selama masa koalisi Aram-Israel. Selama invasi Sanherib, Yesaya membimbing raja Hizkia untuk mempercayai Yahweh untuk keselamatan Yerusalem. Bagian-bagian ini dalam pelayanannya memiliki satu berita utama: Yehuda harus percaya kepada Yahweh saat menghadapi penghakiman Asyur. Tentu saja, ketika orang Israel tidak percaya kepada Yahweh, Israel mendapatkan peringatan lain: pembuangan akan menimpa Yehuda. Namun seperti begitu banyak nabi lainnya, Yesaya menegaskan bahwa pemulihan Yehuda akan terjadi setelah pembuangan.

Jadi, kita sudah melihat bahwa periode penghakiman Asyur memiliki beberapa peristiwa besar yang mempunyai konsekuensi yang signifikan bagi pelayanan para nabi. Nabi-nabi mengetahui bahwa semuanya ini akan menjadi suatu masa yang penuh penderitaan dan kesusahan bagi umat Allah. Dan mereka datang dengan kata-kata penghakiman, tetapi juga kata-kata penghiburan bahwa suatu masa depan yang lebih cerah akan segera tiba.

Setelah kita menelusuri bagaimana para nabi Perjanjian Lama melayani selama periode penghakiman Asyur, kini kita perlu beralih kepada periode penghakiman Babel.

PENGHAKIMAN BABEL

Sejauh ini kita sudah melihat bahwa monarki yang mula-mula memberikan latar belakang bagi semua nabi yang menulis dalam Perjanjian Lama. Kita juga telah melihat bahwa penghakiman Asyur pada tahun 734 hingga 701 sM menjadi konteks historis bagi pelayanan Yunus, Hosea, Amos, Mikha, Nahum, dan Yesaya. Kini kita tiba pada periode besar ketiga dari pelayanan kenabian, yaitu penghakiman Babel. Periode penghakiman ini dimulai dari 605 sM hingga 539 sM.

Dapat dikatakan, nabi Yesaya menjadi penghubung antara periode penghakiman Asyur dan penghakiman Babel. Kita telah melihat bahwa Yesaya melayani Hizka pada masa invasi Sanherib. Setelah penyerbuan itu berakhir, Hizkia mencoba bersekutu dengan Babel untuk melindungi diri dari serangan-serangan lebih lanjut. Dalam pasal 39 dari kitab Yesaya, sang nabi mendapati apa yang telah dilakukan oleh Hizkia. Karenanya ia mengucapkan perkataan ini di dalam 39:5-7:

“Dengarkanlah firman TUHAN semesta alam! Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel…. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel (Yesaya 39:5-7).

Sekali lagi kita akan membagi pembahasan kita ke dalam dua bagian: pertama, apa sajakah peristiwa-peristiwa besar dalam penghakiman Babel, dan kedua, bagaimanakah para nabi melayani di zaman itu? Mari kita lihat dahulu peristiwa-peristiwa besar yang ada dalam periode penghakiman Babel.

Peristiwa-Peristiwa Besar

Untuk memahami periode ini, kita harus mengidentifikasi tiga peristiwa besar: Serangan pertama Babel pada tahun 605 sM, serangan kedua pada tahun 597 sM, dan serangan ketiga pada tahun 586 sM.

Serangan Pertama

Pertama, pada tahun 605 sM, terjadi serangan dan deportasi pertama terhadap beberapa pemimpin Yehuda ke Babel. Raja Yoyakim tidak setia kepada Nebukadnezar, raja tuannya dari Babel sehingga Nebukadnezar menduduki Yehuda, dan menyingkirkan banyak pemimpin lainnya di Yerusalem. Nabi Daniel dan teman-temannya yaitu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, termasuk di antara mereka yang dideportasi pada waktu itu.

Serangan Kedua

Peristiwa besar kedua dalam periode ini terjadi pada tahun 597 sM. Nebukadnezar menanggapi pemberontakan Yehuda yang terus-menerus dengan serangan dan deportasi yang kedua. Kali ini, ia menghancurkan sebagian besar wilayah Yehuda dan membawa cukup banyak penduduk ke pembuangan di Babel. Nabi Yehezkiel dibawa dalam pembuangan ini. Serangan kedua ini melukai bangsa Yehuda dalam banyak hal, tetapi bangsa itu tetap tidak bertobat dari perbuatan-perbuatannya yang jahat.

Serangan Ketiga

Peristiwa besar ketiga di dalam periode Babel terjadi pada tahun 586 sM. Nebukadnezar sudah muak dengan pemberontakan Yehuda yang terus berlanjut, sehingga ia melakukan serangan dan deportasi yang ketiga sekaligus terakhir. Saat itu, bangsa Babel sepenuhnya menghancurkan Yerusalem dan bait sucinya. Sebagian besar penduduk Yehuda dibawa ke dalam pembuangan dan negeri itu dibiarkan telantar, dan pembuangan Yehuda secara besar-besaran sedang berlangsung.

Ketika kita memikirkan tiga peristiwa besar selama masa penghakiman Babel ini, kita harus ingat bahwa ini merupakan masa kehancuran total bagi umat Allah. Anak Daud dibawa ke pembuangan, dan bait suci di Yerusalem dihancurkan. Itu adalah masa yang mengerikan di dalam sejarah umat Allah.

Kini, setelah kita melihat peristiwa-peristiwa besar di dalam periode Babel, kita juga harus mempelajari bagaimana para nabi Perjanjian Lama melayani pada masa tersebut.

Pelayanan Kenabian

Penghakiman Babel menyediakan suatu konteks historis bagi sejumlah nabi Perjanjian Lama. Bahkan, ada tujuh nabi yang melayani sebagai utusan-utusan Yahweh pada masa itu: Yeremia, Zefanya, Yoel, Obaja, Habakuk, Yehezkiel, dan Daniel.

Yeremia

Nabi pertama dalam periode Babel adalah Yeremia. Yeremia melayani sebagai nabi Allah di Yehuda selama ketiga serangan dan deportasi tersebut. Seperti yang kita baca di dalam Yeremia 1:2-3, Yeremia melayani

… dalam zaman Yosia…, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya . . .dalam zaman Yoyakim … sampai akhir tahun yang kesebelas zaman Zedekia … hingga penduduk Yerusalem diangkut ke dalam pembuangan dalam bulan yang kelima (Yeremia 1:2-3).

Dari ayat-ayat ini, kita melihat bahwa Yeremia melayani dari sekitar tahun 626 sM, bahkan sebelum Babel mengalahkan Asyur, dan ia terus melayani sebagai utusan Yahweh setidaknya sampai tidak lama setelah 586 sM, ketika serangan dan deportasi Babel yang terakhir terjadi.

Sebelum serangan Babel yang pertama, Yeremia menyerukan pertobatan yang sejati untuk mencegah datangnya serangan tersebut. Ketika gelombang serangan Babel terus berlanjut, Yeremia mengerti bahwa kehancuran Yerusalem pasti terjadi. Ia memanggil umat itu untuk bertobat dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tahun-tahun kesesakan. Walaupun begitu, sekalipun fokusnya adalah pada pembuangan Babel, Yeremia juga menegaskan bahwa suatu hari kelak Israel akan dipulihkan. Misalnya, di dalam pasal 30-31 dari kitabnya, Yeremia mengingatkan kepada kaum Yehuda bahwa Allah akan membawa mereka kembali ke tanah itu dan akan menempatkan mereka dengan aman di bawah suatu perjanjian yang baru.

Zefanya

Nabi yang kedua pada masa penghakiman Babel adalah Zefanya. Zefanya 1:1 secara eksplisit memberitahukan kapan ia melayani sebagai nabi Allah. Ia melayani pada masa pemerintahan Yosia bin Amon, raja Yehuda. Yosia memerintah Yehuda antara tahun 640 sM hingga 609 sM, dan hal ini menempatkan Zefanya di zaman yang sama dengan masa awal pelayanan Yeremia. Di dalam 2:13-15, Zefanya menubuatkan bahwa Niniwe akan jatuh seperti yang terjadi di tangan Babel. Bahkan, Zefanya menubuatkan bahwa hari Tuhan akan datang terhadap Asyur dan bangsa-bangsa lain yang telah menganiaya umat Allah. Ia mengantisipasi dominasi Babel atas seluruh kawasan tersebut, termasuk Yehuda. Sekalipun demikian, Zefanya juga mengumumkan bahwa akan tiba saatnya ketika Israel dan Yehuda akan dipulihkan kejayaannya. Seperti yang ia katakan di dalam Zefanya 3:20:

“Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN (Zefanya 3:20).

Yoel

Nabi ketiga yang tampil di masa penghakiman Babel adalah Yoel. Kita tidak bisa bersikap dogmatis tentang masa pelayanan Yoel karena kitabnya tidak memberikan waktu yang spesifik bagi pelayanannya. Beberapa penafsir menempatkan Yoel lebih awal, sementara yang lain menempatkan dia lebih kemudian. Namun, dari 1:13 dan beberapa referensi lainnya, kita bisa memastikan bahwa bait suci dan jabatan imam masih ada ketika Yoel berkhotbah. Yoel juga mengumumkan bahwa kehancuran Sion akan tiba di dalam Yoel 2:1. Jadi, Yoel mungkin melayani pada masa tertentu selama deportasi orang Yehuda ke Babel. Beritanya begitu gamblang— tanah Yehuda akan dijarah oleh tentara-tentara asing. Dalam pasal 2, Yoel memanggil mereka untuk bertobat dengan harapan agar pertobatan yang tulus itu dapat mencegah atau meringankan penghancuran yang dilakukan Babel. Namun, setelah menyimpulkan bahwa kehancuran akan terjadi, Yoel tidak sepenuhnya melepaskan pengharapannya akan berkat Allah. Ia meyakinkan para pembacanya bahwa begitu pembuangan berakhir, Allah akan mengembalikan umat-Nya ke masa berkat-berkat perjanjian yang tidak tertandingi. Seperti yang disampaikannya di dalam Yoel 3:20-21:

“Tetapi Yehuda tetap didiami untuk selama-lamanya dan Yerusalem turun-temurun. Aku akan membalas darah mereka yang belum Kubalas; TUHAN tetap diam di Sion” (Yoel 3:20-21).

Obaja

Nabi keempat selama masa penghakiman Babel adalah Obaja. Waktu penulisan kitabnya juga tidak dinyatakan secara spesifik, tetapi kitab ini berkonsentrasi pada bagaimana bangsa Edom mengambil keuntungan dari penderitaan orang Yehuda yang sangat berat. Kemungkinan besar, yang dimaksud Obaja adalah malapetaka yang menimpa Yehuda di masa terjadinya gelombang serangan dan deportasi yang dilancarkan Babel terhadap Yehuda dari tahun 597 hingga 586 sM. Obaja mengumumkan bahwa Yahweh tidak akan mengabaikan kekejaman orang Edom. Edom akan dihancurkan. Bahkan, ia mengumumkan bahwa suatu hari kelak orang-orang Yehuda akan kembali dan menduduki Edom. Seperti yang dikatakan oleh Obaja dalam ayat 15 kitabnya:

Sebab telah dekat hari TUHAN menimpa segala bangsa. Seperti yang engkau lakukan, demikianlah akan dilakukan kepadamu, perbuatanmu akan kembali menimpa kepalamu sendiri (Obaja 15).

Nabi Obaja menyatakan bahwa setelah masa pembuangan Yehuda berakhir, Allah akan menghukum bangsa-bangsa karena telah menganiaya umat-Nya.

Habakuk

Nabi kelima yang melayani selama masa penghakiman Babel adalah Habakuk. Lagi-lagi, kita tidak tahu pasti kapan ia melayani, tetapi isi kitabnya memberikan beberapa pedoman kepada kita. Di dalam Habakuk 1, sang nabi berdoa untuk kehancuran para penguasa kafir di Yehuda. Respons Allah dicatat di dalam Habakuk 1:6. Di sana Tuhan berfirman:

... Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka (Habakuk 1:6).

Berdasarkan nas ini, kelihatannya Habakuk melayani beberapa saat sebelum terjadinya serangan dan deportasi pertama oleh Babel pada tahun 605 sM.

Habakuk awalnya meratapi kejahatan orang-orang Yehuda, kemudian ia meratapi penindasan Babel, tetapi di akhir kitabnya, Habakuk mengukuhkan kepercayaannya kepada Yahweh, tanpa mempedulikan kapan Allah akan menghancurkan orang Babel. Di dalam Habakuk 3:17-18, kita membaca kata-kata yang terkenal itu tentang iman:

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3:17-18).

Yehezkiel

Nabi keenam yang melayani selama masa penghakiman Babel adalah Yehezkiel. Pasal 1 ayat 2 dari kitab Yehezkiel memberi tahu kita bahwa sang nabi dibawa ke Babel pada tahun 597 sM. Ia melayani di Babel di antara orang-orang yang berada dalam pembuangan, dan seperti yang dijelaskan bagian selanjutnya dalam kitabnya, Yehezkiel melayani bahkan di tengah kehancuran yang besar diYerusalem pada tahun 586 sM. Jadi, Yehezkiel melayani dari sekitar tahun 597 sM sampai kehancuran Yerusalem pada tahun 586 sM. Sebagian besar pelayanan Yehezkiel pada mulanya ditujukan untuk mengumumkan bahwa bangsa Babel akan menghancurkan Yerusalem dan bait sucinya. Selain ini, banyak bagian kitab Yehezkiel yang berfokus pada kepulangan kaum Israel ke tanah itu dan bagaimana mereka harus membangun kembali bait sucinya ketika mereka kembali. Setelah menggambarkan bagaimana kota dan baitnya itu akan menjadi luar biasa megah, ia menutup kitabnya demikian dalam 48:35:

Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR DI SITU (Yehezkiel 48:35).

Daniel

Nabi ketujuh yang melayani selama masa penghakiman Babel adalah Daniel. Daniel dibawa ke Babel pada waktu deportasi pertama pada tahun 605 sM. Rujukan kepada peristiwa-peristiwa yang tercantum di dalam kitabnya menegaskan bahwa pelayanan Daniel berlangsung setidaknya dari tahun 605 hingga 539 sM. Daniel menafsirkan mimpi dan ia sendiri mendapatkan beberapa penglihatan yang menegaskan bahwa pembuangan terhadap Yehuda akan diperpanjang untuk jangka waktu yang lama. Ia menyadari bahwa umat Allah belum bertobat dari dosa mereka, bahkan di dalam pembuangan, maka seperti yang dikatakannya di dalam Daniel 9:13:

Seperti yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, segala malapetaka ini telah menimpa kami, dan kami tidak memohon belas kasihan TUHAN, Allah kami, dengan berbalik dari segala kesalahan kami dan memperhatikan kebenaran yang dari pada-Mu (Daniel 9:13).

Sebagai hasilnya, Daniel belajar bahwa pembuangan umat Allah akan berlangsung selama masa pemerintahan dari empat kerajaan: Babel, Media-Persia, Yunani, dan bangsa keempat yang tidak disebutkan namanya, yang sekarang kita kenal sebagai Kekaisaran Romawi. Daniel mendesak mereka yang dalam pembuangan untuk bertobat dan beriman, dan memperingatkan bahwa pemberontakan yang terus-menerus hanya akan memperpanjang masa pembuangan mereka dari tanah itu.

Kita tidak mungkin bisa melebih-lebihkan penghakiman Babel. Ini adalah masa ketika umat Allah menderita kekalahan yang paling parah; umat Allah dibuang keluar dari tanah Yehuda; anak Daud dibuang dari takhtanya; kota Yerusalem dihancurkan dan bahkan bait suci Allah diruntuhkan. Ini merupakan hal terburuk yang pernah terjadi pada umat Allah dalam Perjanjian Lama. Di masa itu, para nabi menyampaikan banyak kata-kata peringatan dan penghakiman, tetapi mereka juga memberitakan pengharapan bahwa suatu hari kelak Tuhan akan memulihkan umat-Nya, bahkan mengembalikan mereka ke Yerusalem dan Yehuda.

Sejauh ini, di dalam pelajaran kita tentang analisis historis terhadap nubuat, kita telah melihat peristiwa-peristiwa besar dan pelayanan-pelayanan kenabian selama tiga periode. Kini kita telah tiba pada periode terakhir dalam nubuat Perjanjian Lama, yaitu periode pemulihan.

PERIODE PEMULIHAN

Seperti yang telah kita lihat, periode monarki awal memberikan latar belakang bagi nabi-nabi yang menulis Alkitab. Sejumlah nabi melayani selama penghakiman Asyur, dan bahkan ada lebih banyak nabi yang melayani Allah selama penghakiman Babel. Kini kita perlu mempelajari nabi-nabi yang melayani umat Allah ketika sebagian orang Israel benar-benar kembali dari pembuangan di Babel ke tanah Yehuda. Dapat kita katakan bahwa periode pemulihan ini berlangsung dari tahun 539 sM sampai sekitar tahun 400 sM. Kita akan menelusuri periode ini dengan cara yang biasa kita gunakan, yaitu dengan berfokus terlebih dahulu pada peristiwa-peristiwa besar pada masa itu, baru kemudian membahas pelayanan kenabian. Mari kita lihat dahulu peristiwa-peristiwa besar dalam periode pemulihan.

Peristiwa-Peristiwa besar

Hal pertama yang harus kami sebutkan adalah kepulangan orang Israel ke tanah itu.

Kepulangan Orang Israel ke Tanah Perjanjian

Pada tahun 539 dan 538 sM, Allah melakukan suatu hal yang luar biasa bagi umat-Nya di pembuangan. Sebagai penggenapan dari salah satu nubuat Yesaya, raja Koresy dari Persia menaklukkan kerajaan Babel dan mendorong orang Israel untuk pulang ke tanah mereka dan membangun kembali bait suci Yahweh. Pemulihan pertama umat itu dari pembuangan terjadi di bawah kepemimpinan Sesbazar, yang oleh banyak orang dianggap sebagai Zerubabel, yaitu pewaris yang sah dari takhta Daud. Walaupun begitu, mereka yang kembali dari pembuangan jumlahnya relatif sedikit, dan mereka tidak benar-benar bertekad untuk melakukan kehendak Yahweh.

Pembangunan Kembali Bait Suci

Fakta ini membawa kita kepada peristiwa besar yang kedua dalam periode pemulihan, yaitu pembangunan kembali bait suci selama tahun 520 sampai 515 sM. Bangsa Israel yang pertama kali pulang ke tanah itu mengabaikan pembangunan kembali bait suci. Mereka telah memulai proyek itu, tetapi mereka segera disibukkan dengan berbagai kebutuhan mereka sendiri, sehingga mereka berhenti membangun. Karena umat Allah gagal melaksanakan tanggung jawab mereka untuk membangun kembali bait suci, nabi Hagai dan Zakharia menyusuri jalan-jalan di Yerusalem pada sekitar tahun 520 sM untuk mendesak umat itu untuk membangun kembali bait suci Allah. Awalnya, terdapat optimisme dan pengharapan yang besar, tetapi optimisme itu tidak bertahan lama.

Kemurtadan yang Meluas

Peristiwa besar ketiga dalam periode pemulihan adalah kemurtadan yang meluas. Kemurtadan ini bertumbuh setelah dimulainya pembangunan kembali bait suci, khususnya pada masa pelayanan Ezra dan Nehemia. Para ahli memperdebatkan waktu yang akurat bagi periode ini, jadi kita perlu menentukan jangka waktu kemungkinan dari antara tahun 450 hingga 400 sM. Dalam kurun waktu satu generasi setelah Zerubabel membangun kembali bait suci, umat Allah mulai melakukan pernikahan campur dengan perempuan-perempuan asing, dan sebagai akibatnya, agama Israel bercampur dengan agama bangsa-bangsa lain. Periode pemulihan terhenti. Ezra dan Nehemia memang melakukan beberapa pembaruan dan hal itu berhasil untuk beberapa waktu, tetapi tidak lama kemudian, bahkan pembaruan itu pun gagal. Periode pemulihan telah menjadi suatu periode kemurtadan yang besar.

Kini kita bisa beralih kepada topik kita yang kedua dalam periode pemulihan. Bagaimanakah peristiwa-peristiwa ini mempengaruhi para nabi yang melayani pada masa itu?

Pelayanan Kenabian

Tiga sosok nabi yang ternama itu adalah Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Pertama-tama, marilah kita memperhatikan pelayanan Hagai.

Hagai

Kitab Hagai menegaskan dengan sangat jelas bahwa nabi ini adalah salah satu di antara mereka yang telah kembali ke negeri itu. Sebagai hasilnya, pelayanannya dilakukan di Yerusalem. Selain hal ini, kita mengetahui dengan cukup akurat kapan Hagai melayani. Kita membaca di dalam Hagai 1:1 bahwa Allah berfirman melalui Hagai pada hari pertama di bulan keenam kepada Zerubabel, bupati Yehuda. Dari nas ini dan nas-nas lainnya dalam kitab Hagai, kita mengetahui bahwa semua nubuat Hagai diberikan selama periode empat bulan pada tahun 520 sM.

Apakah inti pemberitaan Hagai? Hagai bertekad untuk menginspirasi orang-orang Yehuda yang bimbang untuk membangun kembali bait suci. Bahkan, Hagai telah menubuatkan bahwa kemenangan dan berkat yang besar akan dilimpahkan kepada Zerubabel jika ia dan bangsanya bertobat dari dosa-dosa mereka. Seperti yang diucapkannya di dalam 2:21:

“Katakanlah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, begini: Aku akan menggoncangkan langit dan bumi...” (Hagai 2:22).

Hagai menawarkan kelimpahan berkat Allah kepada umat itu apabila bangsa itu sungguh-sungguh berbalik kepada Tuhan dan membangun kembali bait suci-Nya.

Zakharia

Nabi kedua dalam periode pemulihan adalah Zakharia. Dari isi nubuat Zakharia, kita mengetahui bahwa ia melayani di Yerusalem bersama-sama dengan Hagai. Pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa Hagai mulai melayani pada bulan kedelapan, tahun kedua dari pemerintahan Darius, dengan kata lain pada tahun 520 sM. Dan menurut isi dari Zakharia 9-14, banyak penafsir percaya bahwa pelayanan Zakharia berlanjut setelah jelas bahwa tindakan membangun kembali bait suci saja tidak cukup untuk mendatangkan berkat ilahi. Di awal pelayanannya, yang dirangkumkan di dalam delapan pasal kitab Zakharia, pemberitaan nabi tersebut sangat sederhana: berkat-berkat yang besar akan datang jika umat itu membangun kembali bait suci. Akan tetapi, melampaui itu semua, di dalam pasal 9-14, Zakharia menubuatkan bahwa pemulihan penuh dapat terjadi hanya dengan suatu intervensi ilahi di masa depan yang mendatangkan bencana. Sang nabi mendapatkan penglihatan tentang serangkaian peristiwa besar di masa depan, ketika Allah melakukan intervensi dan memberikan kemenangan serta kebenaran kepada umat-Nya. Seperti yang ia katakan di dalam 14:20:

Pada waktu itu akan tertulis pada kerencingan-kerencingan kuda: “Kudus bagi TUHAN!” dan kuali-kuali di rumah TUHAN akan seperti bokor-bokor penyiraman di depan mezbah (Zakharia 14:20).

Maleakhi

Nabi terakhir dalam Perjanjian Lama adalah Maleakhi. Dari fokusnya kepada bait suci dan orang Lewi, tampak jelas bahwa Maleakhi juga melayani di wilayah sekitar Yerusalem. Pemberitaannya paling cocok untuk masa sesudah reformasi Nehemia, di antara tahun 450 hingga 400 sM. Pelayanan di bait suci telah menjadi sangat menyimpang, dan umat itu telah begitu jauh berpaling dari Tuhan sehingga Maleakhi mengumumkan bahwa penghakiman yang besar masih akan menimpa umat Allah. Seperti yang kita baca di dalam Maleakhi 3:5:

Aku [Tuhan] akan mendekati kamu untuk menghakimi (Maleakhi 3:5).

Namun, Maleakhi tahu bahwa penghakiman Allah di masa mendatang juga akan menuntun kepada pemulihan terakhir bagi orang-orang benar di Israel. Di dalam 4:2, Maleakhi menawarkan pengharapan bagi mereka yang bertobat dan terbukti setia kepada Tuhan:

Tetapi kamu yang takut akan Nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang (Maleakhi 4:2).

Maleakhi meyakinkan Israel, bahkan di dalam kemurtadannya, bahwa setelah penghakiman akan tiba masa yang penuh berkat.

Para nabi dalam periode pemulihan harus menghadapi suatu krisis yang besar. Umat Allah yang telah kembali dari pembuangan terus memberontak terhadap Allah, dan sebagai akibatnya, para nabi akhirnya menyimpulkan bahwa berkat-berkat pemulihan yang besar hanya akan diberikan pada masa depan yang masih jauh. Sebagai orang Kristen, kita mengetahui kapan masa depan yang masih jauh itu akan tiba — yaitu ketika Yesus datang ke bumi.

KESIMPULAN

Dalam pelajaran ini, kita telah menelusuri suatu analisis historis terhadap nabi-nabi Perjanjian Lama. Meskipun sejarahnya sangat kompleks, akan bermanfaat jika kita merangkum peristiwa-peristiwa dalam sejarah kenabian ke dalam empat periode besar: pertama, periode monarki awal; kedua, periode penghakiman Asyur; ketiga, periode penghakiman Babel; dan keempat, periode pasca-pembuangan, masa ketika terdapat pengharapan awal yang tinggi, tetapi pada akhirnya pengharapan itu takluk kepada penantian akan penghakiman lebih lanjut, diikuti dengan berkat-berkat Allah yang baru akan terjadi lama sesudah itu.

Ketika kita belajar untuk menafsirkan nubuat Perjanjian Lama, selalu penting bagi kita untuk mengaitkan kata-kata para nabi dengan situasi mereka. Ketika kita mengaitkan perkataan para nabi dengan situasi historis yang mereka hadapi, kita akan dapat memahami makna dari nubuat yang mereka sampaikan bagi umat di zaman itu, dan kita juga akan dapat memahami makna perkataan mereka bagi kita saat ini.